Tulisan Guru

Panjang Jimat Bulan Bertengger di Gedung Guru

Seorang sahabat malam itu menelponku, “Ben… malam ini tidak boleh kita lewatkan, karena Pelal sudah jelas-jelas akan jatuh malam ini!’. Untuk sementara aku tak mampu menangkap apa maksud ajakan dari sahabat itu. Belum sempat seutuhnya kumenggerayangi maksud ucapannya, kembali aku dikagetkan dengan teguran keras di cross brengsek milikku (hp ni lebih sering memberiku kabar pahit daripada kabar yang menyenangkan). Aku pikir mungkin merk hp bisa menentukan juga nasib seseorang, buktinya Kaji Uti Suranenggala…gara-gara ganti hp, malamnya langsung dikabari besoknya ikut pelantikan jadi kepala sekolah… (uedan.. kalo tahu begini aku juga nyesel tidak ikut-ikutan Kaji Uti ngridit Nokia 7610)… “Hualllooo..! keur nadeh nyaneh?” rupanya sang sobat mulai tidak nyaman dengan quantum sintingku yang telah melambung kemana-mana.

Setelah terjadi perbincangan lebih lanjut, akhirnya baru kusanggup memahami maksud ajakan dari sahabat itu. Malam ini rupanya aku harus meladeni ajakannya untuk mencoba berdo’a di malam panjang jimat ini untuk sebuah kerisauan nasib yang selalu tidak berpihak pada kami berdua. Bayangkan saja jangankan disertifkiasi ikut kuliah UT pun selalu mendapat nilai her. Bahkan aku tak tahu sampai kapan aku dapat menyelesaikan kuliahku, karena untuk tahu nilai kuliah saja, sulitnya minta ampun.

Aku tak mengerti dengan otak komputer jahanam itu, bagaimana bisa aku mendapat nilai her, padahal mereka yang lulus justru nyontek dari semua isi jawabanku. Wualah….kenapa aku jadi marah-marah sendiri… Si Edi Kumis pun pasrah dengan kenyataan ini, padahal dia mahasiswa yang terkenal galak dan berani berkoar di perkuliahanku (maklum Si Edi adalah guru agama yang salah ngambil jurusan di kelas kuliah, jadi penderitaannya mungkin lebih berat dibanding teman-teman sekelas yang lainnya. Apalagi teman-teman kuliahku lebih banyak ibu-ibu yang sudah tinggal enam atau tujuh tahun lagi pensiun dan lebih dari sebagiannya mereka mengidap jantung dan gula, wah… Si Edi pang gagah na wae lah…).

Kuliah bagiku bukan lantaran sebuah idealisme yang sedang kujalani, tapi hanya sebuah imperialistis atas sebuah mimpi untuk dapat gaji besar dengan jabatan seorang guru. Boro-boro buat kuliah, untuk menutup tagihan bank keliling saja aku harus bermain petak umpet. Belum lagi keluh kesah istriku yang selalu ribut dengan tukang warung sebelah rumah, karena selalu mengelak saat disodorkan struk kredit (nama lain untuk sebuah tagihan hutang). Rupanya Tuhan… belum meridhai namaku tercatat di rekening sebuah bank untuk sebuah pencairan dana sertifikasi (semoga Tuhan tak mencatat ini).

Pukul 21.00 WIB aku sudah berjubel bersama ribuan pengunjung lainnya. Sementara kalangan tamu yang umumnya terdiri dari para pejabat pemerintahan, wakil rakyat, kerabat kalangan keraton terlihat telah menduduki panggung kehormatan di gedung Prigandani dan Prabayaksa. Sementara acara prosesi panjang jimat dimulai, aku hanya mampu menikmati lantunan sastra dari kitab Syaikh Ja’far Al Barzanjie yang terus menggema mengiringi ritual saat itu. Dari kerumunan banyak orang kurasakan seluruh badanku terpontang-panting saat mereka berebut nasi jimat dari iringan para sentana, ponggawa dan senopati abdi keraton. Walau ku tak bisa ikut mencicipi nasi jimat itu, aku sangat yakin berkahnya akan kudapati jua lewat keikhlasan dan sejuta harapan yang selalu kubisikkan dalam hati sepanjang prosesi itu.

Usiaku yang sudah kepala lima, tak sanggup untuk terus mumpuni nilai sakral malam itu, termasuk sobatku itu. Kami hanya mampu ikut berkeringat, berdesak, sambil menghantarkan do’a-do’a atas harapan-harapan yang selama ini belum juga tergapai. Air mataku tak terasa jatuh menetes saat ingat si Kohar yang diusianya relatif masih muda sudah disertifikasi, sementara aku… di usiaku yang tua boro-boro disertifikasi, kuliah pun belum selesai bahkan untuk empat mata pelajaran masih BL. Si Kohar memang pantas mendapatkan semua itu, karena walau masih muda dia sudah menyandang gelar S.Pd., akhirnya nafas panjang menyadarkanku juga atas semua kenyataan yang menimpa nasibku.

Tak terasa hari sudah sangat beranjak malam, tapi kota Cirebon malam itu benar-benar tidak tidur. Kulihat bulan pun bertengger di balik awan membiaskan cahaya putih menerangi langit-langit keraton dan sinarnya semakin agung saat tombak-tombak pusaka yang memagari keraton memantulkannya. Sementara para senapati, ponggawa, penghulu dan abdi dalem melepas kami dengan senyum dan bisik kelelahan.

Bentangan bendera raksasa yang berwarna-warni,tertiup angin malam dan melambaikan kepergianku untuk segera kembali ke rumah. “Ben… mudah-mudahan ada keajaiban pada nasib kita di besok-besok hari, Tuhan pasti mendengar permintaan kita malam ini. Saat guru-guru yang lain sudah tidur kita masih harus mengendarai sepeda motor sepanjang kurang lebih 30 Km. Ini keikhlasan…ini perjuangan…ini do’a!” jelas Sang Sobat berapi-api dan suaranya hampir tak terdengar karena terbawa angin.

Memang Tuhan Maha Kuasa, kalau sudah berkehendak… maka kekuatan apa pun tidak akan mampu menghalanginya. Mungkin ungkapan inilah yang sangat tepat kukatakan saat ini. Betapa tidak! Kuliahku yang tidak kunjung usai juga itu adalah prasyarat untuk mendayung mimpi dapat sertifikasi. Tetapi, kini entah keajaiban panjang jimat atau apa…sebuah takdir telah memanggilku mengikuti sertifikasi. Dan ternyata keajaiban ini bukan hanya menimpa padaku semata. Seperti cahaya bulan di malam 12 Rabiulawal saat pelal jatuh, sinarnya telah memberikan berkah pada guru-guru yang telah lama menunggu. Dan kami mendapatkan sebuah angin segar, bahwa sertifikasi akan berpihak pada senioritas masa kerja. Alhamdulillah…nah…. kalau sudah begini, “buat apa kuliah kalau sudah sertifikasi..” nah loh, siapa yang salah. (he..he…he…. hidup gayus! Orang jahat saja bisa bersenang-senang, masa guru yang notabene orang baik tidak bisa….ya iya lah….)

RELAKSASI MARET 2011

One response to this post.

  1. Posted by nobody on Februari 17, 2011 at 10:47 am

    Kekuatan FreeMason Yahudi bermain di balik masalah Gayus dll.?
    Semua orang sepertinya berusaha untuk saling menutupi agar kedok anggota mafia FreeMason utamanya tidak sampai terbongkar.
    Jika memang benar demikian, maka tidak akan ada yang bisa menangkap dan mengadili Gembong tersebut -di dunia ini- selain Mahkamah Khilafah!
    Mari Bersatu, tegakkan Khilafah!
    Mari hancurkan Sistem Jahiliyah dan terapkan Sistem Islam, mulai dari keluarga kita sendiri!

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: