Nestapa Sekolahku

Merapi di Kabupaten Cirebon

Berbekal SK pemotretan dari Ketua PGRI Kabupaten Cirebon, penulis menulusuri sekolah-sekolah yang ada di wilayah timur untuk dipilih dan difoto untuk kalender PGRI tahun 2011. Saat memasuki wilayah kecamatan Susukanlebak, banyak terlihat bangunan pemerintah terlihat megah dan indah tertata rapi di antara pemukiman penduduk yang juga terlihat asri. Di penghujung jalan di tengah-tengah pemukiman ramai, mata ini tiba-tiba terbelalak ada sebuah bangunan sekolah sudah terlihat sangat parah. Dan sebuah papan nama tertulis jelas SD Negeri 1 Kaligawe Wetan UPT Pendidikan Kec. Susukanlebak. Dengan hati penuh debar penulis mencoba menulisnya semua yang penulis temui dengan penuh keprihatinan yang mendalam. (Maaf Yah… Aku harus salahi SK ini, karena nuraniku tak kuasa membendungnya)

Apa yang akan Bapak/ Ibu katakan, kalau anak-anak Bapak/Ibu ada diantara mereka?

Apa yang akan Bapak/Ibu Katakan kalau Bapak/Ibu sebagai mereka? Lihat…kalau mereka adalah anakku, sudah pasti aku larang untuk sekolah di sana. Dengar… kalau mereka adalah aku, pasti yang kukatakan adalah adakah nurani di negeri ini!

Tidak harus menunggu ada gunung meletus, karena walau tak berimbas sampai ke daerah kita, ada tuh sekolah kita yang lebih hancur tanpa harus awan gembel menerjangnya.

Ketika rasa solidaritas terus didengung-dengungkan…. rasa kesetiakawanan dan jiwa sosial dengan serta merta mengalir bak air jernih yang akan memberi kesegaran bagi siapa pun yang tertimpa bencana. PGRI Kabupaten selalu berpartisipasi aktif bahkan berhasil mengumpulkan dana dalam jumlah yang cukup besar setiap kali ada bencana di mana pun di negeri ini.

Dan sekarang PGRI akan diuji, oleh keluarga sendiri, ayo galang solidaritas… ayo coba peduli…. mereka lebih dekat dengan kita….mereka anak-anak kita…siapa tahu diantara mereka adalah masih saudara dengan kita…. penulis khawatir ketika tulisan ini dimuat bangunan sekolah ini sudah keburu ambruk, dan yang lebih khawatir lagi sudah terlambat kita pedulikan sehingga sudah memakan korban….ayo ini juga merapi… ini juga bencana …ini nestapa… turun-turun ke daerah, jangan terninabobokan oleh gedung guru kita yang sudah megah berdiri, lalu kita tertidur karena sejuknya hembusan AC. Tapi ini kan… tanggung jawab pihak pemerintah…. sebuah pertanyaan tiba-tiba muncul dalam pemikiran penulis…sudahlah, mau nunggu korban?  Mau cari kambing hitam? Lupa bahwa kita punya rasa solidaritas besar? Lupa kita punya PGRI Tangguh… dengan hati dan tangan kita mampu bangun sebuah gedung guru dan bangkit dari keterpurukan, kita pun yakin dengan hati dan tangan kita bersama-sama bangun sekolah ini. Ayo…. aku takut anak kita jadi korban…..mau tunggu apa lagi, Bung!

Penilaian Ahli Bangunan

Melihat kondisi fisik bangunan yang seperti itu, tim FD mencoba mencari seorang ahli bangunan untuk melihat dan menilai sejauh mana kekuatan fisik bangunan ini. Dan ternyata detak jantung penuh debar menjadi sebuah kesimpulan setelah sang ahli mengatakan bangunan ini harus ditinggalkan saat hujan datang dan jangan dipakai sebelum kering karena genting dan bahan-bahan yang basah akan berat dan kwawatir tak bisa ditopang oleh kayu-kayunya yang sudah lapuk dan patah.

Konfirmasi

Saat dikonfirmasi, Drs. Adang Sa’adan kepala SDN 1 Kaligawe Wetan mengatakan bahwa bangunan ini sudah lama ditinjau dan akan mendapat bantuan, tapi sampai sekarang masih belum ada realisasinya. Dari perhatian pemerintah sekolah kami hanya dapat bantuan dari DAK tahun anggaran 2009/2010 itu pun hanya dua lokal. Padahal kebutuhan sekolah kami paling sedikit harus tujuh lokal, enam untuk ruang belajar dan satu untuk kantor guru.

Ketika disinggung tentang dampak penerimaa siswa baru, Bapak kepala sekolah ini dengan tegas  mengatakan, kami punya prestasi dan hanya karena prestasi inilah mereka para orang tua masih memilih sekolah ini sebagai pilihan. Lalu apa mereka tidak takut akan kondisi bangunan, Pak? Sebenarnya  mereka sangat takut, tapi mereka awalnya yakin bahwa pasti sekolah ini akan disulap menjadi sekolah baru. Tapi…. saya tidak tahu kapan bantuan itu datang, keluhnya.

Untuk mengantisipasi dari hal-hal yang tidak diinginkan, kami terpaksa selalu membubarkan kapan pun itu, bila dipandang hujan pasti akan turun. Terkadang kami harus libur dari pagi dan besoknya pun kami harus masuk agak siang, karena harus menunggu bangunan kering dulu sebab bila masih basah kami takut bangunan tak kuat menahan beban.

Lalu apa harapan Bapak? Saya sih Cuma berharap semoga sekolah ini cepat mendapat bantuan, hanya itu. Maksud Bapak bantuan dari siapa? Dari siapa pun yang masih punya nurani. Oh … ya sudah, Pak….Mari kita berdoa!    (D. Ahadiat)

One response to this post.

  1. […] « Nestapa Sekolahku (potret buram pendidikan negeriku) […]

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: