Catatan Akhir Tahun

YANG TERSEMBUNYI

Puisi ini ku teriakkan pada laut yang pernah kusinggahi

Pada gunung  yang pernah kulewati

Pada setiap jalanan yang pernah kulalui

Pada setiap dinding kamar

Pada setiap sendi kehidupan

Pada air mata

Pada senyum canda

Pada amarah

Pada kerinduan

Tak terkecuali untuk semua kebohongan

Antara aku dan kau

Dan yang kita sembunyikan ……

Tuhan ….

Bajumu telah rombeng di hatiku

Karena pilihan teriaki aku

Hempaskan aku pada kaki langit

melempar bintang pada panas matahari

di jiwaku di mata dan di hati

saat awan hitam telah ikatkan tangan-tanganku

Di pintu Mu…..

Cinta mengupyak hati pada kubangan lumpur

Kau tetap menari cita-cita

Menitipkan asa pada trotoar jalanan

Sepanjang senyum di bingkai air mata

Dan kita sama-sama ucapkan

“jangan kau hiraukan hidup melebar problema”

Kau!!…kau !… dan KAU!!!… tetap sembunyi

BUNGA DI JENDELA KAMAR

Bunga kecil itu berwarna merah

Kuintip di jendela kamar pada pagi buta

Butiran embun di kawat-kawat berduri

menggulung dan memancang semua ranting

Tak fanakan indahmu

Meski daunmu telah mengering

Aku tersenyum untuk hari

matahari malu-malu menampakkan diri hari ini

mungkin karena mendung telah mendahului bangunkan aku

bila hujan datang

tak kan ku tutup jendela ini

karena ku takut sang bunga memanggilku

kan kubiarkan basah hati ini

oleh air hujan yang Kau kirimkan

aku selalu menunggumu ……..

Di Simpang Jalan

kita pasti ingat segala yang pernah kita ikrarkan

tapi siapa yang akan menegur

setiap kali kita berpaling

hendak kita patut bersyukur

karena tak ada yang menghitung

tak ada yang mencatat

dan waktu masih banyak tersisa

untuk tak pernah mengerti

maka izinkanlah…

untuk selalu menyimpan

butiran ini…

hanya untuk senyum

agar tangis tak pernah risaukan perjalanan ini

Kembali

apakah aku bersalah

apakah salah, orang yang bersalah

untuk kita anggap selalu bersalah

dan waktu tak izinkan mereka kembali

tak adakah nurani…

untuk kita tawarkan keluh ini

pada setiap mata yang memandang

pada setiap hati yang menalanjangi

pada setiap catatan yang hitam pekat

kemanakah perginya embun pagi

setiap mata memancarkan resah

karena jerit jauh di lubuk hati

tak adakah waktu

kembali benahi diri

karena setia doa berlari

menembus segala hilaf

sungguh…..

biarkan aku datang

karena aku pun akan pergi

kembali….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: