Republik Tak Pernah Tidur

(Sambutan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon pada Seminar Peningkatan Kinerja Guru, Hotel Patra Jasa Cirebon)

Teguran Hebat
Pagi itu semua guru profesional (sebutan untuk guru yang sudah disertifikasi) berkumpul untuk mendapatkan pembinaan sehari pada seminar peningkatan kinerja guru profesional di Hotel Patra Jasa Cirebon, tepatnya Hari Minggu 21 November 2010). Saat Drs. H. Dudung Mulyana, M.Si, M.M.Pd Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon hadir memasuki aula pertemuan, semua mata tertuju pada sosok ini, yang memang sudah tidak asing lagi bagi siapa pun yang merasa dirinya sebagai mahluk Tuhan yang ditakdirkan menjadi guru di kabupaten yang mempunyai moto Cirebon Berprestasi ini (wah…. uenak dong guru-guru berprestasinya pasti diperhatiin ya….) Acara dibuka, dengan dipandu oleh Sang Moderator Piawai yang penuh semangat berapi-api, siapa sangka kalau sang moderator ternyata seorang Kapala UPT Pendidikan, ternyata beliau adalah Bapak Rokhidin, S.Pd (Kepala UPT Pendidikan Kecamatan Karangsembung).
Setelah moderator membuka dan memperkenalkan sang Nara sumber , hal yang sangat tidak disangka-sangka terdengar sebuah teguran hebat menggelegar, saat orang nomor satu di dunia pendidikan Kabupaten Cirebon ini menyuruh penulis untuk duduk. Betapa tidak, karena saat itu telunjuk itu langsung mengarah pada tempat dimana penulis berdiri. Spontan semua orang yang hadir serentak diam, seakan terhipnotis oleh suasana yang memang boleh dibilang tegang. “Eh…kamu sih tukang foto, Ya?” serentak pula gelak tawa memenuuhi aula pertemuan dan mencairkan suasana yang penuh deru dan debar. Huh…Bapak bikin jantung aku copot saja…(saya wartawan guru, Pak! Jangan galak-galak… sih!)

Tantangan Guru Indonesia
Acara pun dimulai, seperti biasa beliau selalu mengabsen peserta yang hadir pada saat itu. Dengan gayanya yang sangat akrab dan penuh seloroh, satu persatu peserta perkecamatan di hitung jumlah kehadirannya. Boleh deh tadi ada peserta yang tidak hadir karena alasannya naik haji, tapi yang alasannya sakit, benar tidak… boleh juga kalau memang benar sakit, tapi kalau Cuma sakit hati ya tetap harus berangkat, candanya.
Aku bangga pada guru-guru di kabupaten ini, sejumlah 400 orang guru bisa hadir memenuhi undangan seminar, orang yang biasanya jalan-jalan, bersama keluarga, atau ada rutinitas lain, kini datang memenuhi panggilan ini. Itulah bukit bahwa Republik ini tak pernah tidur.
Dalam sambutannya itu beliau mengemukakan adanya sinyalemen keprihatinan, bahwa guru-guru yang lulus sertifikasi melalui jalur portofolio tidak menunjukkan adanya peningkatan profesionalitas, bahkan sebuah penelitian yang dilakukan oleh PMPTK menyebutkan bahwa guru-guru yang lulus sertifikasi melalui jalur diklat lebih baik peningkatan kinerjanya dibanding mereka yang lulus langsung melalui jalur portofolio.
Disebutkannya pula bahwa motivasi guru mengikuti sertifikasi, 80% adalah karena faktor finansial dan hanya 20% saja yang mempunyai motivasi untuk peningkatan kompetensi dalam kariernya. Ini sebuah tantangan bagi guru-guru di republik ini, karena perjuangan pemerintah bersama PGRI dan DPR adalah agar guru profesional terlindungi bermartabat dan sejahtera menjadi sebuah keyakinan akan meningkatnya mutu generasi bangsa ini. Realisasi 20% APBN untuk pendidikan harus dijawab dengan profesionalisme. Bahkan beliau pun memberikan apresiasi terhadap mantan Ketua Umum PGRI Pusat, Moh. Surya yang telah berhasil memperjuangkan kenaiakan satu kali gaji pokok.
Untuk itu tantangan kita sebagai guru yang tengah disorot adalah meningkatkan kinerja dan kedisiplinan. Beliau tidak muluk-muluk mengharapkan sesuatu dari para guru ini, hanya beliau memberi penekanan sedikit demi sedikit atau secara perlahan peningkatan kinerja dan disiplin dengan hadir di tempat kerja seabagai kewajiban yang utama. Selain itu, guru harus selalu instropeksi diri.
Disadari atau tidak, ternyata sertifikasi bukan jaminan seseorang (baca guru) bisa sesuai dengan yang diharapkan. Bahkan sering menimbulkan kecemburuan bagi guru-guru yang belum disertifikasi karena sertifikasi tak merubah kinerja seseorang (guru) bahkan ia tetap datang telat seperti biasanya.
Awas bagi kepala sekolah bila ada tenaga pengajarnya yang sering mangkir atau tak disiplin untuk tak segan-segan melaporkan pada inspektorat, dan sekarang sudah tercatat kurang lebih 10 orang guru tercatat punya urusan dengan inspektorat. Kalau guru sudah berhubungan dengan inspektorat berarti guru itu guru bermasalah, demikian tegasnya.
Dalam peningkatan profesionalitas guru, di zaman globalisasi ini guru harus menguasai teknologi. Guru profesional jangan Gaptek (gagap teknologi). Saya malu kalau ada guru dari Kabupaten ini Hokay (olohok bari ngelay) hanya menjadi penonton melihat kemampuan guru-guru dari wilayah lain yang sudah menguasai teknologi. Maka dari itu sangat dianjurkan semua guru-guru profesional harus terus menyeimbangkan kemampuan dirinya dengan perkembangan zaman, dan ini sebuah keharusan yang tak bisa ditawar-tawar lagi.
Sebuah ilustrasi
Kebiasaan yang dilakukan sampai sekarang adalah selalu jalan pagi, di jalan RS Gunung Jati bersama istri tercinta saat libur kerja. Dipinggir jalan di sebuah trotoar jalan, dekat rumah sakit, beliau selalu menyempatkan makan sorabi bersama nyonya. Di sana lah beliau mulai mengenal betul bagaimana seorang tukang sorabi di pinggir jalan berjuang menyekolahkan anak-anaknya. Dua orang anak tukang sorabi, mampu belajar sampai ke perguruan tinggi, yang satu di Unsoed dan yang satunya di Unswagati. Sebuah perjuangan yang sangat takjub, karena sudah pasti membutuhkan biaya yang tidak sedikit tentunya.
Dari ilustrasi itu, beliau tekankan bahwa dari berbagai sudut pandang guru lebih unggul dibanding dengan tukan sorabi di pinggiran jalan. Tinggal kita harus mampu bertindak profesional, mau dan mampu menahan diri, tidak bermewah-mewahan, sabar, berdoa, bekerja keras dan selalu ikhlas.
Semboyan sehebat apapun, arahan dari siapa pun tak akan ada artinya bila tidak kita tindak lanjuti ….. guru profesional adalah guru yang kompetitif. Siap berkompetisi dengan siapa pun dimana pun dan mampu berhasil dalam berbagai kompetensi. Demikian kata-kata bijak terakhir dari beliau sebelum menutup sambutannya pagi itu. (Siap, Pak!…. kami bangga punya orangtua yang penuh inspirasi, coba beri kesempatan yang muda-muda untuk menunjukkan kerja kerasnya….siap, Pak?) D. Ahadiat.

One response to this post.

  1. Posted by arlan on Februari 23, 2013 at 8:22 pm

    bagaimana jika bukan dokter membuatkan resep,bukan perawat menyuntik.apa profesi ini akan marah dan memprotes.
    Kenyataan sekarang bukan ijasah guru tapi mengajar,terutama didaerah terisolir sungai,Guru lebih memilih di perkotaan didaratan gemana solusi anda,siap tugas didaerah sungai dengan tunjangan kusus yang dipotrong potong alasan biaya usulan.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: