SURAT PAHLAWAN DARI GAYUS UNTUK GURU INDONESIA

Menurut beberapa teman, Gayus Tambunan sewaktu sekolah termasuk siswa yang berotak encer dan smart rajin bergaul dengan teman-temannya. Pada setiap lomba siswa teladan saat masih duduk di sekolah dasar, Gayus Tambunan acap kali tampil sebagai juara. Bahkan kenang-kenangan piala dan piagam atas prestasinya masih dipampang di lemari sekolah dasarnya (waaah ……bangga ,ya.. yang jadi gurunya!).

Kini sang murid yang bernama Gayus Tambunan, ramai diperbincangkan. Bak seorang artis Indonesia, namanya melejit menyaingi Dewi Persik, Aura Kasih, Syahrini dan bahkan Kontes SEO. Ketenaran Gayus kini semakin bersinar, namanya terus meroket bahkan menjadi tajuk utama di beberapa  media di seluruh jagad raya ini. Apakah kembali gayus berprestasi?

Sebuah prestasi luar biasa telah kembali ia torehkan untuk sejarah bangsa ini. Dengan kepiawainan dan bakatnya, Gayus Tambunan telah berhasil meyakinkan kepada semua penduduk dunia bahwa sebenarnya dipenjara itu tak ada bedanya dengan kehidupan biasa. Hal ini bukan hanya sebuah konsep tanpa fakta, tapi benar-benar telah ia buktikan secara kontekstual dengan data yang sangat valid. Lihat saja, Gayus sang tahanan korup ternyata dapat bersenang-senang wisata ke Bali bersama istri tercinta.

Sebagai seorang murid yang baik, Gayus berkirim surat kepada kita (GURU-GURU)…..

Assalamu’alaikum, salam sejahtera untuk kita semua,

Untuk guru-guruku yang telah mendidik dan melahirkan aku. Apa kabar Guru Indonesia? Disini aku baik-baik saja. Aku masih sama seperti yang dulu, tak ada yang berubah dari diriku ini. Secara fisik aku masih berbadan gempal….dari cara tersenyum aku masih imut-imut….dari paradigma  berfikir aku masih lurus seperti apa yang pernah guru ajarkan… bahkan aku semakin pandai karena aku selalu rajin belajar.

Kepandaianku dalam mengolah angka-angka, berhitung matematika dan berpikir ekonomis telah membentuk sosok dan jiwa secara alami. Aku telah mejadi  manusia bukan secara ajaib, tapi benar-benar karena sebuah proses pendidikan. Dan itu adalah karena gemulai jari-jemarimu, Guru! Terima kasih Guru, karena jasa-jasamu aku bisa seperti ini.

Seperti Aristoteles, ia adalah murid Plato. Dan Gayus Tambunan adalah murid kita. Seorang anak bangsa yang besar dan dididik di alam Indonesia, di bangku sekolah kita dalam kurikulum kita.

Semoga Prestasi anak bangsa tidak lantas meninabobokan kita. Kita masih ingat anak Indonesia telah berhasil meraih penghargaan sebagai  juara dunia dalam berbagai lomba mata pelajaran baik itu matematika, fisika, komputer bahkan kontes robot yang di adakan di negeri Samurai belakangan ini. Dan dari mereka itulah jangan heran kalau akan lahir Gayus-Gayus baru, yang lebih aktif dan kreatif lagi.

Pertanyaannya….. ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Jawabanya sangat sederhana…..

Tahukah kita, apa artinya jerit histeris siswa yang spontan meluapkan emosinya karena senang saat bel istirahat berbunyi….(mereka merasa telah terbebas dari upacara formalitas kita,  ternyata kita telah memperkosa mereka dalam keterkungkungan yang membosankan dan memenjarakannya dalam proses pembelajaran yang ini sangat berpengaruh besar terhadap aspek psikologis mereka. Dan kejadian ini bukan hanya sehari atau dua hari tapi bahkan berjuta-juta hari)

Mari kita repleksikan perjalan kita sebagai guru bagi anak-anak kita

Ternyata Gayus telah terlahir dari pengajaran kita yang konstruktiv. Ia telah aktif membina pengetahuannya berasaskan pengalamannya dalam belajar. Teori dan konsep pendidikan perenialisme telah membangunkan kita bahwa realitas yang hakiki terlahir pada diri  manusia sejak dari asalnya ia memperoleh pendidikan dalam hidupnya. Selain itu, filsafat perenialis menekankan kemampuan-kemampuan berpikir rasional manusia sehingga membedakan mereka dengan binatang-binatang lain.

Barangkali Bapak dan Ibu Guru lupa, mengajar bukan hanya proses mentransfer ilmu pengetahuan dari buku kepada otak anak. Sering kita tak meyadarinya pula (terutama penulis) bahwa anak mempunyai fase kehidupannya sendiri  yang harus selalu kita pertimbangkan secara bijak dalam membina dan mendidiknya ketika diproses menjadi manusia dewasa. Dan harus selalu kita sadari pula bahwa mengajar itu bukan hanya sebuah proses formal, tetapi harus secara utuh menyeluruh. Apa artinya kita mempunyai anak-anak pandai matematika kalau akhirnyan nanti mereka mahir mengolah angka-angka untuk memperkaya dirinya.

Terima kasih, Gayus Tambunan….kau bukan hanya pahlawan bagi kepolisian di republik ini…tapi Kau adalah seorang Murid Indonesia yang telah memberi Kami Guru-Guru untuk kembali berpikir dan berpikir dalam mencetak anak bangsa yang lebih bermartabat.Hidup Gayus……

(Untuk Prof. Oding, ternyata teori hedonist kental di negeri ini ya, Prof!?!….. Huhuy……)

2 responses to this post.

  1. kaum guru tidak hanya memberi pelajaran kepada siswa,tapi juga harus mau belajar kepada siswa,,,,,,,karena makhluk yang namanya siswa itu ,begitu unik dan menarik untuk diajak sharing dalam berbagai hai yang tidak mereka ketahui sama sekali,dan hal yang sudah mereka ketahui..guru harus banyak introspeksi diri untuk selalu berdiri di depan cermin sebagai bentuk refleksi diri,,sambil bertanya pada diri sendiri,,apakah aku sudah mampu jadi profil guru yang profesional,,??? trims ntuk penulis ,,yang sudah membangunkan saya dari tidur panjang yang selalu mimpi indah dengan penuh khayalan dalam mimpi seolah2 saya sudah jadi sosok guru yang TELADAN,,tapi dalam realita sehari-hari keberadaan saya sebagai pendidik,ternyata masih perlu berbenah diri…

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: