Pendidikan Moral

FORMAT PENDIDIKAN MORAL

(sebuah rekonstruksi pembelajaran terhadap gagalnya pendidikan nilai)

Oleh : Diat Ahadiat, S.Pd

Pendahuluan

Era globalisasi adalah zaman ketika tidak ada satu pun masyarakat modern di dunia ini yang dapat mengisolasikan diri dari masyarakat modern lain. Kehidupan masyarakat yang terus berkembang seiring proses globalisasi menjadi sebuah tantangan. Merosotnya akhlak bangsa merupakan proses alami yang bergulir dalam revolusi kompleksitas kehidupan manusia.

Tantangan pertama dunia pendidikan masa depan adalah menyelenggarakan pendidikan yang dapat menjembatani antara peradaban kehidupan yang berkembang dengan nilai-nilai luhur budaya bangsa. Perubahan sosial yang semakin cepat telah menggeser nilai-nilai dalam masyarakat, hingga berdampak membawa krisis nilai. Paling tidak untuk sementara waktu, orang seperti kehilangan pegangan atau mengalami ketidakjelasan arah hidup (disorieted). Oleh sebab itu tantangan kita dalam pendidikan masa depan adalah bagaimana melakukan pendidikan yang menyadari pentingnya dan mengupayakan terlaksananya pendidikan nilai.

Pendidikan nilai merupakan bagian integral kegiatan pendidikan, karena pendidikan pada dasarnya melibatkan pembentukan sikap, watak, dan kepribadian peserta didik. Pendidikan tidak hanya bertujuan menghasilkan pribadi yang cerdas dan terampil, tetapi juga pribadi yang berbudi pekerti luhur. Pemikir seperti Smith (1969) dan Spranger (1928) menyebutkan bahwa nilai-nilai mewarnai sikap dan tindakan individu. Oleh sebab itu, pendidikan harus membantu peserta didik untuk mengalami nilai-nilai dan menempatkannya secara integral dalam keseluruhan hidup mereka.

Sekolah sebagai lembaga pendidikan formal harus mampu menjalankan fungsinya dalam membentuk dan mengembangkan nilai-nilai luhur budaya bangsa hingga bisa menghantarkan generasi cerdas dan berbudi pekerti luhur, beriman dan bertaqwa. Permasalahannya adalah, bagaimana pendidikan nilai itu diimplementasikan di sekolah-sekolah dan diintegrasikan dalam tindakan nyata (in action) dalam pembelajaran, sehingga peserta didik bukan hanya cerdas secara rasional tetapi cerdas secara spiritual, emosional dan sosial.

Sejalan dengan tuntutan kebutuhan masyarakat dan perkembangan zaman, ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin pesat, disinilah tugas guru untuk senantiasa meningkatkan keterampilan dan kualitas intelektual di dalam kegiatan pembelajaran, bahkan guru perlu tampil di setiap kesempatan baik sebagai pendidik, pengajar, pelatih, inovator, fasilisator maupun dinamisator pembangunan masyarakat yang bermoral Pancasila sekaligus mencerdaskan kehidupan bangsa (baca: profesionalitas guru).

Tulisan ini akan mengelaborasi faktor-faktor penyebab kegagalan pendidikan nilai dan menggali solusi atas permasalahan tersebut salah satunya adalah dengan me- rekonstruksi pembelajaran melalui Format Pendidikan Moral.

selengkapnya KLIK

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: