Menulis, bakat atau motivasi

Kepengarangan suatu proses

Kepengarangan tidak bisa diraih secara        instant, dengan kata lain kepengarangan adalah perjalanan hidup itu sendiri yang mengajarkan untuk mampu mensublimasikan inspirasi dengan berbagai pengalaman dan pengetahuan menjadi sebuah karangan. Pengalaman dan pengetahuan bisa diperoleh dengan membaca dalam pengertian yang luas, baik dalam membaca buku, membaca alam dan membaca lingkungan.

Proses mengarang diawali dengan melatih diri agar peka menangkap kisah-kisah tak diucapkan yang direkam oleh hati nurani. Tak jarang dari hal sepele lahir sebuah karya. Kejadian menjengkelkan kita dalam  mengajar anak didik di sekolah bisa menjadi bedahan tema yang menarik untuk kita ciptakan menjadi sebuah karya.Cerita seorang teman bisa menjadi inspirasi yang menyatu dengan pengalam  pribadi pengarang. Semuanya diolah secara sadar atau tidak  sadar ke dalam suatu  renungan yang  pada gilirannya ditetaskan ke dalam karya.

Cara mengarang juga beragam.  Para pemula boleh memulai dengan true story atau fature. Membaca karya orang lain juga salah satu kegiatan kepengarangan, dalam hal ini menginterprestasi  dan  mengapresiasi. Tapi pengaruh  bacaan  jagan sampai membuat kita epigon  apalagi plagiator. Pengarang  tak  pelak lagi harus membangun “kepribadian” yang khas dan kuat. Sebagai salah satu pekerja seni, maka kepekaan  mutlak perlu diperlihara sebagai modal menelurkan gagasan dari keharusan, kegembiraan, kesedihan, kebahagiaan, harapan, nilai-nilai, yang berpadu satu dan utuh di dalam jiwa kita.

Bahasa Sebagai Fenomena Budaya

Bahasa dianugerahkan Allah sebagai sarana penting dalam perkembangan kemanusiaan. Bahasa yang merupakan system  lambang ini memungkinkan manusia untuk berpikir secara abstrak dan berkelanjutan. Dengan bahasa pula manusia bersama-sama dengan anggota masyarakatnya dapat menguasai alam, mengembangkan kemanusiaannya untuk membangun budaya dan peradaban.. bahasa memiliki kekuatan dalam kehiduapn manusia, baik secara kolektif maupun individual.

Mengkondisikan Diri

Selama menjalani bangku perkuliahan di PGSD,  tidak pernah sama sekali  saya mengenyam pembelajara tentang kepengarangan atau  perkuliahan khusus tentang menulis. Begitupun di Strata I Bahasa dan Sastra Indonesia yang yang saya geluti hanyalah sebuah program belajar kelas terbang, yang notabene proses pembelajarannya tak seindah di kelas regular.

Dalam rutinitas kerja sehari-hari, kita tidak pernah lepas dari dunia mengarang, bercerita berstrategi dalam menciptakan pembelajaran pada siswa. Semua proses tersebut merupakan perkuliahan nyata bagi kita untuk mampu mengkondisikan diri berani mengintensifkan kebiasaan mengarang tersebut dalam sebuah tulisan.

Semua adalah ilustrasi bagi kita, tiada lain bahwa pada dasarnya seorang guru berpotensi jadi penulis.

One response to this post.

  1. Menulis adalah ketekunan. Ia dapat dipelajari. Bakat hanya beberapa persen saja.

    Mobile Blogging

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: