Naskah Drama Juara II Nasional 2009

PENDEKAR BERKACU

Karya : Diat Ahadiat

Musik seram mengawali babak ini, Panggung dalam keadaan gelap. Sesekali terdengar suara anak-anak yang sedang adu mulut, saling mengejek, dan tertawa terbahak-bahak . Berangsur-angsur suara itu menghilang berganti dengan suara tangis disertai jeritan-jeritan histeris yang sangat mengibakan. Perlahan suara itu pun menghilang hingga sunyi meliputi suasana panggung.

Pelaku :

  1. Pangeran Pandu/ Pendekar Berkacu
  2. Raja Prabu Laksana
  3. Permaisuri
  4. Penasihat Raja
  5. Pengawal Raja 1
  6. Pengawal Raja 2
  7. Pengawal Singgasana Raja 1
  8. Pengawal Singgasana Raja 2
  9. Mpu Pandega/ Kakek Tua

10. Mpu Penegak

11. Mpu Penggalang

12. Mpu Siaga

13. Dewi Api Unggun

14. Penjaga 1

15. Penjaga 2

16. Penjaga Utama

17. Panji

18. Fadil

19. Tia

20. Lusi

21. Jajang

22. Sejumlah anak-anak

23. Ayah Jajang

24. Ibu Jajang

25. Pedagang Tua

26. Mak

27. Sejumlah Penduduk

28. Pencari Kayu Bakar

29. Jubah Hitam

30. Jubah Cokelat

31. Jubah Hijau

32. Jubah Biru

33. Pendekar Palsu

34. Lima ekor Kupu-kupu


Babak I

Lagu gembira membuka kisah ini. lima ekor kupu-kupu sangat lucu menari dan menyanyi untuk mengantarkan kisah tentang Pendekar Berkacu

LAGU KISAH PENDEKAR BERKACU

Prok…prok…prok…

Prok…prok…prok…

Prok…prok…prok… Prok…prok…prok…

Ini kisah tentang seorang pendekar

Pendekar gagah dan perkasa

Menolong anak-anak yang tersesat

Menolong anak-anak yang kebablasan

Selalu bermain dan lupa belajar

Pendekar pembela kebenaran

Memberantas kejahatan

Menyadarkan dari kekhilafan

Mengajak pada jalan yang benar

Pendekar Berkacu namanya

Pendekar…

Pendekar…

Ternyata kau seorang pangeran

Dari Kerajaan Amabalan

Pangeran Pandu namanya

prok…prok….  prok

Prok…prok…prok…

Prok…prok…prok… Prok…prok…prok…

Ia akan segera datang

(semua kupu-kupu keluar sambil tetap menari)

Lampu padam

Babak II

Musik seram mengawali babak ini, Panggung dalam keadaan gelap. Sesekali terdengar suara anak-anak yang sedang adu mulut, saling mengejek, dan tertawa terbahak-bahak . Berangsur-angsur suara itu menghilang berganti dengan suara tangis disertai jeritan-jeritan histeris yang sangat mengibakan. Perlahan suara itu pun menghilang hingga sunyi meliputi suasana panggung. (Panggung masih gelap)

Kakek Tua                   :      (Masuk dengan langkah sangat perlahan sambil membawa obor,  gerakannya seperti sedang mencari-cari sesuatu di tengah kegelapan. Setelah agak lama, langkahnya tiba-tiba terhenti ketika dilihatnya ada sesuatu yang tergeletak) Sudah kuduga Kau pasti ada di sini, Nak! Syukurlah, terima kasih Tuhan, Kau masih sisakan secercah harapan. (Tangannya mengelus-elus tubuh yang tergeletak dan seketika tubuh itu pun bangun) Bangunlah, Nak. Mari kita pergi! (sambil berjalan keluar dari panggung yang gelap dan sepi).

Babak III

(Musik gaduh mengawali babak ini. Segerobolan anak-anak memasuki panggung sambil berteriak-teriak histeris dengan  terpontang-panting seperti terbawa angin) Ibu…Bapak… Ibu … Bapak…tolong…tolong….(akhirnya mereka terjatuh). Huu…hu…hu…hu…(mereka menangis dan merintih kecil)

Panji                            :      (bangun sambil menangis dengan badan sempoyongan) Hu…hu…hu…Bapak… Ibu … Panji ingin menjadi anak pintar … tapi … (jatuh lagi) Hu…hu…hu….

Fadil                             :      (bangun sambil menangis dengan badan sempoyongan) Hu…hu…hu…Ayah… Bunda… tolonglah Fadil… Fadil ingin jadi anak yang berguna …tapi… (jatuh lagi). Hu…hu…hu…

Tia                                :      (bangun sambil menangis dengan badan sempoyongan) Hu…hu…hu…Bapak Guru… Ibu Guru… Tia berjanji akan menjadi murid yang patuh … tapi … (jatuh lagi) Hu…hu…hu…

Lusi                              :      Hu…hu…hu…bangun sambil menangis dengan badan sempoyongan) tolong…tolonglah…  (jatuh lagi) Hu…hu…hu…

Anak-anak yang lain        :  (bangun sambil menangis dengan badan sempoyongan) tolong…tolonglah…  (jatuh lagi) Hu…hu…hu…

Tiba-tiba datang segerombolan makhluk berjubah sambil berjingkrak-jingkrak dan tertawa terbahak-bahak. Mereka berputar-putar mengelilingi anak-anak yang sedang tersungkur tak berdaya. Sambil meneriakan yel-yel Globalisasi

YEL-YEL GLOBALISASI

Global…global…global…globalisasi

Siapa anak malas akan menjadi korban

Global…global…global…globalisasi

Siapa anak yang nakal akan menyesal

Global…global…global…globalisasi

Jangan belajar jadi teman kami

Ha…ha…ha… (tertawa terbahak-bahak)

Global…global…global…globalisasi

Siapa anak bandel akan menjadi korban

Global…global…global…globalisasi

Siapa anak yang manja akan menyesal

Global…global…global…globalisasi

Jangan mengaji jadi teman kami

Ha…ha…ha… (tertawa terbahak-bahak)

Jubah Hitam               :      (kepada penonton) Dengar !… Dengar…dengarkan semua !  Bagi kalian anak-anak yang masih tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, kalian teman kami dan kalian seperti mereka ha…ha…ha….. Aku sangat puas…ha…ha…ha…. Aku sangat gembira sekarang banyak anak-anak yang sudah terpengaruh oleh kesibukan-kesibukan yang membuatnya lupa segala-galanya. Ha…ha…ha…

Jubah Hijau                :      He…he…he… memang benar, bahkan aku sangat bangga. Akhir-akhir ini anak-anak sudah berani melawan orang tua bahkan sudah berani menghardiknya. He…he…he….(tertawa bersama)

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… aku datang kawan aku juga membawa kabar gembira bagi kita makhluk-makhluk penggoda anak manusia. Ho…ho…ho… Anak-anak sudah pandai berbohong bahkan lihai berdusta. Ho…ho…ho….

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur… wek… wek… halo…halo…semuanya! Kita jumpa lagi, aku juga membawa berita istimewa. Buuur… wek… wek…

Semua Jubah            :      Ayo katakan berita apakah itu kawan? (serempak)

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…sudah tidak sabar ya… buuur…wek…wek… buuur….

Semua Jubah            :      Ayo katakan berita apakah itu kawan? (serempak)

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…baiklah  buuur…wek…wek… buuur…. Tahukah kalian akhir-akhir ini para orang tua menjadi sangat gelisah, melihat tindak-tanduk anaknya yang sudah sangat kelewatan. Buuur…wek…wek…. bukankah itu kabar yang sangat istimewa kawan ?

Semua Jubah            :      (Dengan serempak tertawa terbahak-bahak pertanda mereka senang akan berita yang didengarnya)

Jubah Hitam               :      Mari kita giring mereka, mari kita bangunkan mereka …..ha…ha…ha…setelah terbangun kembali, mereka akan sibuk dengan kegiatan-kegiatannya yang sangat tak berguna

Semua Jubah            :      (Dengan serempak tertawa terbahak-bahak) Ayo kalian bangun semua …bangun….bangun… bangun… kalian akan kami giring menjadi anak yang gagal. Ha…ha…ha…bangun! Kembalilah kepada orang tuamu untuk menjadi anak yang berani melawan! Malas belajar! Ha…ha…ha… (serempak sambil membangunkan anak-anak yang sedang tersungkur)

(Semua anak-anak terbangun gerakan mereka seperti sedang dihipnotis)

Jubah Hijau                :      He…he…he… ayo kalian terus main layang-layang dan tidak usah hiraukan tugas di rumah He…he…he….(tertawa bersama)

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… ayo kalian bermain terus play station jangan hiraukan tugas sekolah. Ho…ho…ho…

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… ayo kalian hardik orang tuamu setiap mereka menasihati atau menegurmu. Buuur… wek… wek…

Semua Jubah            :      Ya… teruslah malas … malas…malas…anak malas teman-teman kami (tertawa bersama)

Jubah Hitam               :      Sekarang kita rayakan kemenangan kita ini kawan, mari kita gembira sambil bernyanyi…..ha…ha…ha…

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) mari….. (mereka bernyanyi sambil menari-nari)

LAGU KAMU ANAK NAKAL

Kamu anak nakal

Hobimu ngakal

Karena temanmu malas dan bengal

Setiap hari kamu tak pernah belajar

Apalagi ngaji dan imunisasi

Ha…ha…ha…(tertawa terkekeh-kekeh)

Aku sangat senang

Hobiku melawan

Karena temanku anak yang manja

Setiap hari aku tak pernah sembahyang

Apalagi ngaji dan imunisasi

Ha…ha…ha…

(sambil terbahak-bahak  mereka keluar dari panggung)

(lampu padam)

Babak IV

(musik bernuansa gamelan membuka adegan ini) Tampak singgasana Kerajaan Ambalan yang sangat megah dengan dua orang pengawal yang gagah berdiri disampingnya. Namun di balik kemegahan itu tampak Sang Baginda Raja Prabu Laksana terlihat sedang murung bermuram durja. Beliau terlihat sedang sedih. Tak jauh dari tempatnya berdiri seorang penasihat duduk bersila sambil menundukkan kepala.

Permaisuri                  :      (Masuk dan duduk bersimpuh sambil menangis di depan Raja Prabu Laksana) Kakang Prabu ! Hu…hu…hu… kita harus segera bertindak. Anak kita Pangeran Pandu benar-benar hilang, Kang ! Hu…hu…hu…

Prabu Laksana          :      (Dengan mata berkaca ditatapnya sang Permaisuri tercinta) Nyai…belum tuntas permasalahan yang melanda negeri ini, ketika semua ana-anak menjadi nakal dan tak mau belajar kini masalah berat menimpaku lagi. Nyai bukan hanya kita yang kehilangan anak kesayangan tapi seluruh rakyat negeri ini telah kehilangan jati diri anak – anak dan cita-citanya.

Permaisuri                  :      Kakang ! Apa yang harus kita lakukan sekarang, Kakang? Kita tidak boleh tinggal diam.

Prabu Laksana          :      Nyai ! Masa depan negeri ini ada di pundak anak-anak bangsa ini. Dan ketika kejadian yang sangat memprihatinkan ini menimpa anak bangsa ini, berarti hancurlah negeri ini. Dan aku sangat sedih, Nyai !

Penasihat                   :      Mohon maaf Baginda Prabu!

Prabu Laksana          :      Bagaimana Penasihat, pencerahan apa yang dapat kau berikan padaku?.

Permaisuri                  :      Berilah kami jalan keluar yang terbaik, menghadapi tantangan ini Penasihat.

Penasihat                   :      Daulat hamba, Dewi! Semalam hamba mendapat wangsit.

Permaisuri                  :      Wangsit tentang apakah itu, Penasihat ?

Prabu Laksana          :      Syukurlah Penasihat, katakanlah segera!.

Permaisuri                  :      Ya, katakan Penasihat !

Penasihat                   :      Wangsit yang kudapatkan, mengatakan bahwa menghilangnya Ananda Pangeran Pandu adalah awal mula permasalahan yang tengah melanda negeri ini akan dapat diatasi. Bukankah ini sebuah kabar yang menggemberikan.

Prabu Laksana          :      Lalu bagai manakah caranya, Penasihat ?

Permaisuri                  :      Katakanlah, bagaimanakah caranya ?

Penasihat                   :      Maafkan Hamba, Baginda. Dalam wangsit itu tidak dikatakan. Itulah sebabnya sedari tadi hamba lebih banyak diam. Tapi, dengan wangsit tadi hamba sarankan Baginda jangan terlalu gelisah. Yakinlah semua akan dapat di atasi.

Permaisuri                  :      Tapi Kakang, bagai mana dengan nasib anak kita ? (cemas).

Prabu Laksana          :      Sabarlah, Nyai! Yang harus kita lakukan sekarang adalah berdoa, semoga semua ada dalam perlindungan Yang Maha Kuasa.

(Tiba-tiba masuk dua orang pengawal dengan tergopoh-gopoh).

Pengawal 1 dan 2     :      (masuk) Mohon ampun Baginda, hamba menghadap !

Prabu Laksana          :      Ada apa, Pengawal?

Pengawal 1                :      Hamba membawa perwakilan penduduk yang ingin menghadap pada Baginda.

Pengawal 2                :      Benar Baginda, di luar banyak sekali rakyat yang ingin mengadukan tentang nasib anak-anaknya.

Prabu Laksana          :      Baiklah, bawa mereka masuk!

Pengawal 1 dan 2     :      Titah Baginda akan hamba laksanakan. (keluar)

Pengawal 1 dan 2     :      (Masuk kembali bersama tiga orang perwakilan penduduk) sembah bakti Baginda Prabu !

Prabu Laksana          :      Apa yang ingin kalian katakan padaku, katakanlah rakyatku!

Penduduk 1                :      Mohon ampun Baginda Prabu, kami merasa sangat tersiksa dengan kejadian ini. Anak-anak kami menjadi tidak seperti biasanya. Mereka jadi malas dan tak mau belajar.

Penduduk 2                :      Bukan hanya itu Baginda, mereka semua jadi berani menghardik orang tua.

Penduduk 3                :      Bukan hanya itu Baginda, kami datang ke sini juga ingin memberitahukan bahwa kami melihat akhir-akhir ini sering muncul makhluk-makhluk berjubah

Prabu Laksana          :      Apa, makhluk-makhluk berjubah ?

Penduduk                   :      Betul yang Mulia! (serempak)

Prabu Laksana          :      Penasihat, apa yang kamu ketahui tentang makhluk-makhluk itu ?

Penasihat                   :      Daulat, Prabu! Sebenarnya keberadaan mereka itu dikarenakan tingkah laku anak-anak kita sendiri.

Prabu Laksana          :      Maksudmu apa, Penasihat ?

Penasihat                   :      Ampun, Baginda ! Munculnya mereka dikarenakan mereka merasa senang melihat anak-anak yang malas yang tidak memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya.

Prabu Laksana          :      Apakah mereka dapat kita usir, Penasihat?

Penasihat                   :      selama anak-anak kita tak bisa merubah kebiasaan buruknya, selama itu juga mereka tidak akan bisa kita usir. Karena makhluk-makhluk berjubah itu sudah menjadi bagian dari anak-anak kita.

Prabu Laksana          :      (Mengerutkan keningnya beberapa saat ) Baiklah kalau begitu. Aku bisa mengerti, jadi kejadian yang melanda negeri ini memang kejadian yang luar biasa yang tidak bisa dengan mudah dapat kita atasi.

Penasihat                   :      Benar, Prabu !

Prabu Laksana          :      Baiklah rakyatku, terima kasih atas semua laporannya. (menghampiri penasihat) Penasihat, berikan pencerahan pada rakyatku tentang apa yang seharusnya mereka lakukan sekarang!

Penasihat                   :      (menghadap Prabu) Daulat hamba Prabu ! (menghadap perwakilan penduduk) Rakyatku tercinta, yang perlu kalian lakukan sekarang adalah awasi terus anak-anakmu, arahkan mereka pada kegiatan yang lebih berguna. Dan kami mohon do’a karena kami mendapat wangsit bahwa permasalahan ini akan segera dapat diatasi.

Penduduk                   :      Terima kasih Prabu, Terima kasih, Penasihat Kerajaan. Hamba mohon pamit.

Prabu Laksana          :      Pergilah, mari kita semua berdoa. Sampaikan salamku untuk semua rakyatku.

Penduduk                   :      Titah Baginda akan hamba laksanakan.

(pergi)

Lampu padam

Babak V

(Di sebuah padepokan bernama Padepokan Tunas Kelapa, tampak seorang murid tengah dikelilingi oleh beberapa orang gurunya)

Pangeran Pandu       :      Yang Mulia, Mpu Pandega (menyalami) Yang Mulia, Mpu Penegak (menyalami), Yang Mulia Mpu Penggalang (menyalami), Yang Mulia, Mpu Siaga (menyalami). Terimalah salam baktiku !

Mpu Pandega            :      Anakku, Pangeran Pandu!

Pangeran Pandu       :      Hamba, Guruku.

Mpu Pandega            :      Sekarang sudah saatnya kau kembali pada kedua orang tuamu. Peristiwa yang sekarang sedang melanda rakyatmu, membutuhkan sekali bantuanmu.

Mpu Penegak             :      Benar anakku, banyak sekali teman-teman sebayamu sekarang ini sedang terkena pengaruh jahat dari makhluk-makhluk berjubah.

Mpu Penggalang       :      Ilmu yang sudah engkau dapatkan, harus engkau amalkan. Dengan ilmu itu engkau akan mampu mengatasi kesulitan yang tengah melanda negerimu.

Mpu Siaga                  :      Ajaklah teman-temanmu untuk dapat mengisi waktunya dengan hal-hal yang lebih bermanfaat, karena peristiwa yang sekarang sedang melanda negeri itu dikarenakan mereka terlena oleh kegiatan-kegiatan yang tak bermanfaat.

Mpu Pandega            :      Anakku, Pangeran Pandu!

Pangeran Pandu       :      Daulat, Mpu Pandega!

Mpu Pandega            :      Segeralah kamu kembai ke negerimu, tolonglah orang-orang yang membutuhkan pertolongan. Tapi ingat kamu tidak boleh dulu pulang ke rumah sebelum terlebih dahulu kamu dapatkan sebuah kitab yang bernama Kitab Dasa Dharma.

Pageran Pandu         :      Kitab Dasa Dharma?

Mpu Pandega            :      Kitab berisi tentang sepuluh darma atau bakti, yang kelak dapat kau ajarkan pada generasi di negerimu.

Pangeran Pandu       :      Hamba mohon petunjuk. Dimanakah hamba bisa dapatkan kitab itu, Guru ?

Mpu Pandega           :      Kitab itu akan kamu dapatkan dari  Dewi Api Unggun yang berada di atas puncak Bukit Pramuka

Pangeran Pandu       :      Petunjuk Guru, akan hamba laksanakan.

Mpu Pandega            :      Anakku Pangeran Pandu, sebagai bekal kepergianmu terimalah tongkat ini serta kalungkanlah kacu ini di lehermu. Pakailah selama dalam perjuanganmu. (sambil menyerahkan tongkat  dan kacu kepada Pangeran Pandu)

Semua Guru              :      Pergilah anakku, kami selalu mendoakanmu. (menyalami satu persatu)

Pangeran Pandu       :      Terima kasih guruku semuanya, hamba pergi menjalankan tugas mulia.

(keluar)

Lampu Padam

Babak VI

(Di sebuah ruang tamu yang terlihat mewah,sebuah jam dinding bertengger menunjukkan pukul 21. 00). Tampak seorang ayah tertidur di atas sofa, namun sesekali terbangun dan akhirnya tersadar dan kaget melihat jam di dinding sudah menunjukkan waktu telah malam)

Ayah Jajang               :      (kaget dan setengah berteriak) Jajang… Jajang…. (berhenti sejenak seolah-olah menunggu jawaban dari nama yang dipanggilnya) Ibu…bu…

Ibu                                :      (suara di luar panggung) Ya…

Ayah Jajang               :      (menunggu ibu datang menghampirinya) Ibu… Ibu… bangun dulu, Bu ! Bu…!

Ibu                                :      (masuk dengan ekspresi setengah ngantuk) Ada apa, Yah ? Ibu sangat lelah. Seharian Ibu sendirian memberekan pekerjaan rumah.

Ayah Jajang               :      Ayah tahu, Bu ! Ayah sebenarnya tidak mau mengganggu Ibu. Tapi ayah tadi tertidur waktu menunggui pintu, menanti Jajang pulang.

Ibu                                :      Maksud Ayah, Jajang belum pulang ?

Ayah Jajang               :      Benar, Bu! Makanya Ayah setengah kaget ketika terbangun ternyata anak kita belum juga pulang.

Ibu                                :      Begitulah, Yah. Akhir-akhir ini anak kita banyak sekali perubahan. Bukan hanya pulang malam, sekolah pun ia sering pulang sore.

Ayah Jajang               :      Apakah Ibu menegurnya ?

Ibu                                :      Ibu selalu menegurnya bahkan selalu menasihatinya.

Ayah Jajang               :      Lalu, apa yang ia katakan?

Ibu                                :      Saat itu ia minta maaf dan berjanji untuk tidak lagi mengulangi kesalahannya, tapi …

Jajang                          :      (tiba-tiba masuk, tanpa kata-kata dan pandangannya terlihat kosong. Ia terus berjalan hendak memasuki kamarnya)

Ibu                                :      Jajang…!

Jajang                          :      (langkahnya berhenti tanpa menoleh dan tanpa kata-kata)

Ayah Jajang               :      Jajang… ada apa anakku ? (sambil menghampiri dan memeluknya, tapi jajang tetap tak bereaksi) Bu, ada apa dengan anak kita ?

Ibu                                :      Sudahlah, Pak! Biarkan Jajang masuk kamarnya, biarkan ia istirahat.

Ayah Jajang               :      (dengan terharu ia melepaskan pelukannya dan Jajang pun melaju kembali menuju kamarnya)

(Ketika Jajang sudah memasuki kamarnya, tiba-tiba di luar terdengar suara seseorang memberi salam. Ibu dan Ayah Jajang kaget dibuatnya) Assalamu’alaikum …

Ibu dan Ayah              :      (kaget sejenak mereka saling menatap tapi akhirnya mereka pun segera sadar) E…siapa malam-malam begini  e…Wa’alikum salam, masuklah !

Pageran Pandu         :      Maafkan saya Bu, Pak !

Ibu dan Ayah              :      Siapa kamu, Nak!

Pageran Pandu         :      Aku Pandu

Ibu dan Ayah              :      E… anu… Pangeran Pandu !

Pageran Pandu         :      Benar!

Ibu dan Ayah              :      (Segera memberi hormat) Mohon ampun, Pangeran!

Salam hormat dari kami, Pangeran! (serempak).

Pageran Pandu         :      Kalau boleh, aku ingin sekali membantu Bapak dan keluarga dalam menghadapi masalah yang sedang menimpa keluarga ini.

Ibu                                :      Terima kasih, Pangeran! Kami memang sedang membutuhkan sekali pertolongan.

Ayah Jajang               :      Apa yang harus kami lakukan, Pangeran? Kami sangat menderita sekali melihat tindak-tanduk anak kesayangan kami yang berubah seperti itu.

Pageran Pandu         :      Baiklah, Pak, Bu! Butuh waktu untuk mengembalikan anak ibu seperti semula. Saya akan terus berjuang, namun sebelumnya Bapak dan Ibu harus selalu mengawasinya dan mengarahkan anak ibu untuk lebih baik menggunakan waktu dengan kegiatan yang lebih bermanfaat.

Ayah Jajang               :      Berarti Jajang anak Bapak akan bisa kembali seperti semula, Pangeran ?

Pageran Pandu         :      Ya selama ia memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya, maka pengaruh buruk itu akan hilang dengan sendirinya.

Ibu dan Ayah              :      Terima kasih, Pangeran.

Pageran Pandu         :      Baiklah saya akan pergi untuk berjuang menyembuhkan anak Bapak dan Ibu juga anak-anak yang lainnya.

Ibu dan Ayah              :      (serentak) Daulat, Pangeran Pandu. Terima kasih atas segala kebaikannya.

Pageran Pandu         :      Assalamu’alaikum (keluar)

Ibu dan Ayah              :      Wa’ alaikum salam

Lampu Padam

Babak VII

(Di suatu pagi, burung berkicau. Para pedagang dan petani lalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Seorang bapak tua mendorong gerobak sayur dengan wajah pucat dan penuh kelelahan menghentikan gerobaknya tepat di depan rumahnya)

Pedagang tua            :      (duduk di tanah sambil menggenggam wadah uang yang terbuat dari kain bekas dengan tangan gemetar. Air matanya tiba-tiba jatuh bercucuran) Mak… Mak…. Mak…(memanggil-manggil istrinya yang tak kunjung datang menghampiri)

Mak                              :      (suara di luar panggung) Ya…

Pedagang tua            :      (menunggu Mak datang menghampirinya) tidak mungkin… Mak… Ya Allah….., Mak ! Mak..!

Mak                              :      (Karena matanya buta, si Mak masuk dengan menggunakan tongkat  ekspresi wajahnya terlihat penuh tanda tanya) Ada apa, Pak ? Ko pagi-pagi begini sudah pulang. Apakah Bapak tidak belanja sayur untuk dagangan hari ini?.

Pedagang tua            :      Celaka, Mak! (sambil menangis) habis sudah… habis…

Mak                              :      (wajahnya semakin menunjukkan raut penuh tanda tanya) Maksudmu apa, Pak ? Aku semakin tidak mengerti saja ?

Pedagang tua            :      Si Topan anak kita kemana, Mak ? Kemana dia, Mak ?

Mak                              :      Aku semakin tak mengerti, tadi kau bilang habis-habis, sekarang kau tanya-tanya si Topan. Maksudmu apa, Pak?

Pedagang tua            :      Mak… modal kita habis, Mak. Modal kita habis semua (masih terus sambil menangis)

Mak                              :      (semakin tak mengerti) Habis ? Kenapa bisa habis,bukankah Bapak tidak pernah melayani ibu-ibu yang mau ngutang. Kenapa bisa habis, Pak ?

Pedagang tua            :      Si Topan, Mak! Si Topan anak kita !

Mak                              :      Aku tahu, Pak! Si Topan memang anak kita! Katakan yang jelas !

Pedagang tua            :      Si Topan telah mengambil semua uang modal dagangan kita.

Mak                              :      Apa ! Tidaaak … ! (jatuh pingsan)

Pedagang tua            :      (kaget melihat istrinya tergeletak dan segera ia pun merangkulnya) Mak… Mak… Mak… (ikut pingsan)

Pageran Pandu         :      (masuk setengah berlari) Ya Tuhan sungguh kasihan mereka ini. Apa jadinya nanti kalau anak-anak di negeri ini bertingkah seperti ini. Aku harus segera mengatasi semua ini. (lalu ia pun merogoh sakunya memasukkan beberapa keping uang ke dalam saku yang tengah digenggam Pak Tua dan diusaplah kedua orang yang tengah tergeletak )

Mak dan Pdg Tua      :      (seketika langsung bangun)

Pedagang tua            :      Mak… lihat, Mak ! Oh… rupanya Tuhan telah memberi modal lagi sebagai ganti uang yang hilang !

Mak                              :      (Memiring-miringkan kepalanya untuk berusaha tahu uang modal ganti yang dikatakan suaminya) Terima kasih, Tuhan !

Pedagang tua            :      (tiba-tiba ia pun tersentak kaget ketika dilihatnya ada seseorang berdiri di sampingnya) Siapa kisanak ?

Pangeran Pandu       :      (hanya tersenyum sambil berlalu keluar)

Pedagang tua            :      Pendekar Berkacu ! (setengah bergumam)

Mak                              :      (Memiring-miringkan kepalanya untuk berusaha tahu peristiwa apa yang terjadi di sekitarnya) Ada apa, Pak ? Siapa, Pak ?

Pedagang tua            :      Tuhan, Mak !

Mak                              :      Tuhan ! Bapak bisa melihat, Tuhan ?

Pedagang tua            :      Bukan, Mak !

Mak                              :      (menggeleng-gelengkan kepala pertanda ia semakin bingung ) Aduh… ada apa ini ?

Pedagang tua            :      Tuhan akhirnya telah mengirim seorang Pendekar Berkacu untuk mengatasi masalah di negeri ini.

Mak                              :      (wajahnya berubah berseri) Pendekar Berkacu !

Mak dan Pdg. Tua     :      Terima kasih, Tuhan.(sambil menengadahkan tangan)

Lampu Padam

Babak VIII

(musik bernuansa gamelan membuka babak ini) Suasana istana terlihat sangat dingin seperti biasanya. Tampak Prabu Laksana tengah duduk di singga sana kebesarannya di dampingi permaisuri tercinta. Tampak pula penasihat tengah duduk bersila sambil menundukkan kepala.

Pengawal 1  dan 2    :      (masuk setengah berlari) Sembah bakti, Baginda Prabu! Hamba mau melapor !

Prabu Laksana          :      (Dengan nada sedikit kaget) Lapor, Baginda!

Prabu Laksana          :      (Berdiri) Katakan, ada apa ? (Dengan nada sedikit kaget)

Pengawal 1                :      Kabar gembira, Prabu! Kabar gembira, Permaisuri !

Permaisuri                  :      (setengah meloncat dari singgasananya) Kabar gembira apakah itu, Pengawal ?

Pengawal 2                :      Tersiar kabar bahwa Pangeran Pandu telah ada di tengah-tengah kita.

Permaisuri                  :      Pandu, anakku! (wajahnya langsung berseri) Kakang Prabu (memeluk Raja Prabu Laksana. Mereka terlihat sangat gembira) .

Prabu Laksana          :      Pengawal benarkan berita yang kau katakan itu ?

Pengawal 1  dan 2    :      Daulat, Baginda Prabu! Hamba hadirkan saksi mereka yang telah melihat dan ditolongnya.

Prabu Laksana          :      Segera bawa kemari, Pengawal ! (sambil  mempererat pelukannya pada permaisuri)

Permaisuri                  :      Ya, cepat bawa kemari Pengawal !

Pengawal 1  dan 2    :      Daulat Baginda, hamba akan laksanakan! (keluar dan langsung kembali membawa dua orang saksi)

Pengawal dan saksi :      (masuk dan langsung melakukan sembah bakti) sembah bakti kami, Baginda Prabu!

Prabu Laksana          :      Bukankah engkau Pedagang tua di seberang sana? Dan bukankah engkau Ayah Jajang dari dusun tiga ?

Saksi                            :      Benar, Baginda Prabu !

Prabu Laksana          :      Benarkah kalian telah melihat anakku, Pangeran Pandu?

Ayah Jajang               :      Benar sekali, Baginda. Semula hamba tak mengenalnya karena waktu kami ditolong, Pangeran bernampilan lain. Beliau terlihat sangat gagah dengan membawa tongkat serta memakai kacu di lehernya.

Permaisuri                  :      Tapi, apa yang membuatmu yakin bahwa dia itu Pangeran ?

Ayah Jajang               :      Pendekar Berkacu itu memperkenalkan diri, dan disaat itulah hamba melihat bahwa memang benar beliau adalah Pangeran Pandu. Demi Tuhan, Baginda! Hamba yakin sekali bahwa beliau adalah Pangeran Pandu.

Pedagang Tua           :      Benar, Baginda! Hamba juga yakin bahwa Pendekar Berkacu adalah Pangeran Pandu. Pendekar  yang sangat gagah berani dan berhati mulia, yang telah menolong rakyatnya dengan hati tulus ikhlas.

Pengawal 1  dan 2    :      Mohon maaf, Baginda! Apakah perlu saya datangkan saksi-saksi lain yang benar-benar telah ditolong oleh Pangeran alias Pendekar Berkacu itu ?

Prabu Laksana          :      Terima kasih, Pengawal. Cukup, aku juga yakin dan percaya atas kabar dan kesaksian mereka.

Saksi-saksi                 :      Terima kasih, Prabu! Hamba mohon pamit !

Prabu Laksana          :      Terima kasih kembali, rakyatku! Sampaikan salamku pada keluargamu.

Saksi-saksi                 :      Titah Baginda akan kami laksanakan! (melakukan sembah bakti dan langsung keluar)

Permaisuri                  :      Tapi, Kakang ! (setengah kaget, seperti baru tersadar)

Prabu Laksana          :      Ada apa, Nyai?

Permaisuri                  :      Kalau memang betul dia adalah Pangeran, kenapa dia tidak pulang dulu pada kita.

Prabu Laksana          :      (Terdiam dan mengerutkan keningnya, kepalanya diangguk-angguk kecil) Benar juga, oh bagaimana Penasihat. Bagaimana pendapatmu tentang semua ini (menghampiri penasihat)

Penasihat                   :      ( bibirnya mengembang senyum tanda kebahagiaan menyelimutinya pula) Daulat, Baginda Prabu! Seorang prajurit ketika tengah berjuang maka kepentingan negara di atas segala-galanya. Begitu pun dengan Sang Pangeran, kita harus bangga atas jiwa yang tertanam di dadanya. Hamba yakin, kalau sudah tiba waktunya Pangeran akan kembali ke sini.

Permaisuri                  :      Kakang ! (kembali memeluk Raja, gembira atas kata-kata yang disampaikan Penasihat Kerajaan)

Prabu Laksana          :      Dewi, Ia benar-benar anak kita yang penuh bakti pada negara. (membalas peluk istrinya)

Lampu padam

Babak IX

Masuk tiga ekor kupu-kupu yang sangat lucu. Mereka menari dan menyanyi ikut bergembira melihat keadaan semakin baik dengan datangnya Sang Pangeran.

LAGU PANGERAN TELAH TIBA

Gembira …gembira… gembira bersama

Tlah datang Sang Pangeran menolong kita

Gembira… gembira… gembira bersama

Tak usah kau sedih semua akan kembali

Pangeran Pandu la..la…la…

Sebagai Pendekar Berkacu

Datang kepada kita

Kabarnya telah tersiar sampai ke istana

Pangeran pandu la…la…

Sebagai Pendekar Berkacu

Telah kembali pada kita

Permaisuri gembira

Raja bahagia

Semua rakyat bersuka ria

Gembira …gembira… gembira bersama

Tlah datang Sang Pangeran menolong kita

Gembira… gembira… gembira bersama

La…la…la….

La…la…la… (keluar)

Lampu padam

Babak X

(musik bernuansa menyeramkan dan sesekali terdengar suara anjing melolong membuka babak ini) Di Lembah Hitam, kalangan makhluk berjubah sedang membahas suatu rencana untuk menggagalkan perjuangan Pangeran Pandu.

Jubah Hitam               :      Kawan-kawan! Belakangan ini anak-anak malas sudah semakin berkurang, sudah banyak diantara mereka yang kini memanfaatkan waktu luangnya dengan kegiatan yang berguna. Ini tidak boleh kita biarkan.

Jubah Hijau                :      He…he…he… memang benar, bahkan aku sangat sebal. Akhir-akhir ini anak-anak sudah semakin hormat pada orang tua bahkan sudah berani meninggalkan kebiasaan buruknya.

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… aku juga sangat sewot, mereka sulit sekali digoda. Tidak seperti biasanya.

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… yang lebih menjengkelkan adalah, para orang tua sudah mulai bangga kembali dengan prestasi anak-anaknya. Buuur… wek… wek …

Jubah Hitam               :      Tahukah kalian apa penyebab semua ini

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…aku tahu…aku tahu… ya… buuur…wek…wek… buuur….

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) ayo katakan apa?

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…baiklah  buuur…wek…wek… buuur…. penyebabnya ialah telah datang seorang pendekar berkacu yang telah menyadarkan anak-anak mengajak pada kegiatan-kegiatan yang baik yang sangat menyebalkan.

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Haaah…Pendekar Berkacu !

Jubah Hitam               :      Aku yakin dia bukan pendekar sembarangan, karena sudah mampu mempengaruhi anak-anak kita berubah menjadi anak-anak yang baik dan rajin.

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Ya… dia pasti pendekar hebat.

Jubah Hijau                :      He…he…he… andai dia berhasil mendapatkan kitab itu maka hancur sudah keberadaan kita.

Jubah Hitam               :      Apa lagi yang kamu ketahui dengan semua ini kawan ?

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) ya… apa lagi yang kamu ketahui dengan semua ini kawan ?

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…baiklah  buuur…wek…wek… buuur…. untuk menyempurnakan perjuangannya Pahlawan Berkacu diharuskan mendaki puncak Bukit Pramuka untuk mendapatkan Kitab Dasa Dharma dari Dewi Api Unggun.

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… kita tidak boleh tinggal diam, kita harus halangi jangan sampai ia berhasil mendapatkan kitab itu. Ho…ho…ho…

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… ayo kalian hardik orang tuamu bila mereka menasihati atau menegurmu. Buuur… wek… wek…

Semua Jubah            :      Ya… kita tidak boleh tinggal diam (tertawa bersama)

Jubah Hijau                :      He…he…he… andai dia berhasil mendapatkan kitab itu maka hancur sudah keberadaan kita.

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… tidak semudah itu kawan, kita harus bisa menggagalkannya, sebab kalau tidak berakhir sudah riwayat kita.

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… aku akan halangi, aku akan gagalkan. Buuur… wek… wek …

Jubah Hitam               :      Ingat ! kita tidak boleh jalan sendiri-sendiri, kita harus kompak dan bekerja sama

Jubah Hijau                :      He…he…he… Kalau begitu, ayo kita cari dia !

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Ya… mari kita cari dia, kita habisi dia, kita buat perhitungan.

Jubah Hitam               :      Ha..ha…ha….Kita tidak usah repot-repot mencarinya kawan !

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Lalu kita harus bagaimana ?

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha…Tujuan akhir Pendekar Berkacu adalah Puncak Bukit Pramuka. Kalau begitu kita jegat saja dia di kaki bukitnya di jalan menuju ke sana. Begitu saja ko repot….Ha…ha…ha….

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Betul juga ya… mari kita berangkat ke sana untuk menjegat Sang Pendekar di sana.

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha…Sekarang kita bergembira kawan, mari kita mulai perjuangan ini dengan bernyanyi dan menari…..ha…ha…ha…

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) mari….. (mereka bernyanyi sambil menari-nari)

LAGU AKU SEORANG PENGGODA

Aku seorang penggoda

Mempunyai jubah panjang

Kalau berjalan pret… pret …pret …

Aku seorang penggoda

Ha…ha…ha…(tertawa terkencing-kencing)

Aku seorang penggoda

Mempunyai jubah panjang

Kalau berjalan brut…brut…brut…

Aku seorang penggoda

Ha…ha…ha…(sambil terbahak-bahak mereka keluar)

(lampu padam)

Babak XI

Tampak Pendekar Berkacu bersama beberapa anak-anak tengah bermain bersama sambil menari dan bernyanyi gembira. Mereka bermain sambil belajar tentang Sandi Morse

LAGU SANDI MORSE

Yo… ayo kita gembira

Kita gembira bersuka ria

Yo…ayo kita bermain

Kita bermain sambil belajar

A….B…C…D…E…F…G…

Jangan…jangan kau lupa

Itulah sandi morse namanya

Yo … ayo kita gembira

Kita gembira bersuka ria

Yo…ayo kita bermain

Kita bermain sambil belajar

H….I…J…K…L…M…N…

Jangan…jangan kau lupa

Itulah sandi morse namanya

Yo … ayo kita gembira

Kita gembira bersuka ria

Yo…ayo kita belajar

Kita bermain sambil belajar

O….P…Q…R…S…T…U…

Jangan…jangan kau lupa

Itulah sandi morse namanya

Yo … ayo kita gembira

Kita gembira bersuka ria

Yo…ayo kita belajar

Kita bermain sambil belajar

V….W…X…Y…Z…

Jangan…jangan kau lupa

Itulah sandi morse namanya

Pangeran Pandu       :      Baiklah teman-teman kalian sudah belajar menghafal sandi morse dan sekarang kita akan belajar yang lainnya lagi !

Semua anak-anak    :      Asyik…asyik…

Pangeran Pandu       :      Bagaimana kalian senang bukan ?.

Semua anak-anak    :      Senang…senang….

Pangeran Pandu       :      Syukurlah, ingat ya teman-teman gunakan waktumu dengan sesuatu yang lebih berguna dan ingat tidak boleh lupa waktu.

Panji                            :      Pendekar, lupa waktu itu apa ?

Pangeran Pandu       :      Lupa waktu itu maksudnya kalian harus disiplin menggunakan waktu. Kalau waktunya belajar pergunakanlah waktu untuk belajar, kalau waktunya membantu orang tua bantulah orang tua dan lain sebagainya. Bagaimana Panji kamu paham ?

Panji                            :      Oh… begitu. Terima kasih Pendekar aku sudah paham sekarang.

Pangeran Pandu       :      Bagaimana teman-teman yang lain juga paham ?

Semua anak-anak    :      Paham…

Pangeran Pandu       :      Syukurlah kalau begitu. Sekarang sudah waktunya kalian untuk kembali ke rumah masing-masing untuk membantu orang tuamu, walaupun kita masih senang dan asyik bermain

Semua anak-anak    :      Betul, Pendekar! Padahal kita masih asyik ya…(serempak)

Pangeran Pandu       :      Ya.. tapi ingat harus tahu waktu kan ?

Semua anak-anak    :      Iya… ya sudah kami  mohon pamit (serempak dan mereka pun pergi)

Pangeran Pandu       :      (menatap mereka dengan senyum gembira) oh ya, sekarang aku harus melanjutkan perjalananku sebelum aku kembali ke istana.

Lampu padam

Babak XII

Untuk menggagalkan misi dari Pendekar Berkacu, makhluk-makhluk berjubah berencana akan menghadangnya di kaki bukit di jalan yang menuju puncak Bukit Pramuka. Kini mereka tengah memasang tak tik untuk dapat menggagalkan Pendekar Berkacu dalam usaha mendapatkan kitab Dasa Dharma.

Jubah Hitam               :      Kawan-kawan kita harus segera pasang tak tik untuk dapat menggagalkan misi Pendekar Berkacu.

Jubah Hijau                :      He…he…he… tenang saja kawan nanti kita jebak saja dia di sini. Kita gunakan tipu daya kita. He…he…he…

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… benar, kita pasti berhasil, masa sama anak kecil saja kalah.

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… aku tidak takut… kalau tipu daya kita tidak berhasil, kita hadapi saja dengan adu fisik  Buuur… wek… wek …

Jubah Hitam               :      Lihat ! Lihat itu, kawan ! Pendekar Berkacu akhirnya datang juga. Ayo kita siapkan diri kita ! (sambil menunjuk dan melihat—lihat orang yang sedang berjalan dari kejauhan)

Semua Jubah            :      (dengan serempak) Ayo…ayo… kita jalankan tak-tik sesuai rencana.

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…sebentar aku mau tanya, siapa diantara kalian yang pernah melihat Pendekar Berkacu sebelumnya? Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek….

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka semua menggelengkan kepala)

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…kalau begitu apa yang membuat kalian yakin kalau yang sedang berjalan itu adalah Pendekar Berkacu?

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan akhirnya mereka semua menggelengkan kepala)

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha…. Begitu saja ko repot, namanya juga Pendekar Berkacu ya sudah pasti menggunakan kacu. Betulkan ? Ha…ha…ha… Begitu saja ko repot

Semua Jubah            :      (Dengan serempak tertawa terbahak-bahak)

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… lihat dia sudah semakin dekat (sambil menunjuk ke arah orang yang datang)

Semua Jubah            :      (segera melihat-lihat ke arah yang ditunjuk dan akhirnya mereka semua tertawa terbahak-bahak)

Jubah Hijau                :      He…he…he… sungguh gampang mengenali orang yang kita cari.

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… aku juga melihatnya orang yang datang itu mengenakan kacu di lehernya.

Jubah Hitam               :      sudah…sudah …dia sudah dekat ayo kita siap-siap.

Semua Jubah            :      (mengambil posisi masing-masing)

Pencari Kayu Bakar  :      (masuk, ia tidak melihat bahwa di sekililingnya ada makhluk-makhluk berjubah) akhirnya tiba sudah aku di kaki bukit ini. Aku ingin istirahat dulu (duduk istirahat sambil menyeka kerigat dengan handuk yang dikalungkan di lehernya)

Semua Jubah            :      (saling tatap, mereka penuh tanda tanya besar)

Jubah Hitam               :      (memberi isyarat kepada Jubah Biru untuk beraksi)

Jubah Biru                  :      (memperlihatkan diri dan menghampiri tukang kayu) Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…hai kisanak, sedang apa kau di sini ?

Pencari Kayu Bakar  :      (kaget) Buur… eh…eh…buur….aduh siapa kau ?

Semua Jubah            :      (tertawa terbahak-bahak merasa lucu melihat kejadian tersebut)

Pencari Kayu Bakar  :      (semakin kaget dan akhirnya ketakutan melihat banyak makhluk-makhluk berjubah bermunculan). Ampun…ampun…!

Jubah Hijau                :      He…he…he… katanya hebat, belum apa-apa kau sudah minta ampun. He…he…he…

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… ayo tunjukkan kehebatanmu, Pendekar !.

Jubah Hitam               :      Sebentar ! (memberi komando pada yang lain dan mendekati Pencari Kayu Bakar) Kisanak siapakah kau ? sedang apa kau disini ?

Semua Jubah            :      (dengan serempak) Ya… Kau pasti Pendekar Berkacu mengaku sajalah !

Pencari Kayu Bakar  :      Aku bukan Pendekar Berkacu…aku hanyalah pencari kayu bakar.

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan mereka akhirnya tertawa) Kau tidak bisa menipu kami, Pendekar !

Pencari Kayu Bakar  :      Sungguh, aku bukan Pendekar Berkacu. Namanya saja aku baru mendengarnya.

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha…. Kalau kau bukan Pendekar Berkacu. Lalu kenapa kau memakai kacu di lehermu ?

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Ya… untuk pakai kau pakai kacu itu?

Pencari Kayu Bakar  :      Oh…ini bukan kacu.(sambil melepas handuk yang mengalung di lehernya) ini handuk namanya.

Jubah Hitam               :      Kau tidak bisa menipu kami ! Kalau itu bukan kacu buat apa kau kalungkan di lehermu ?

Pencari Kayu Bakar  :      Percayalah ini bukan kacu. Handuk ini kukalungkan di leher untuk menyeka keringat yang mengucur di tubuhku.

Semua Jubah            :      (dengan serempak) tidak…kami tidak percaya tipu muslihatmu !

Pencari Kayu Bakar  :      Kalau kalian tidak percaya, silahkan kalian cium saja handuk ini. Handuk ini pasti bau sekali keringatku.

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan muka mereka mengerut seperti merasa jijik dibuatnya)

Pencari Kayu Bakar  :      Silahkan kalau kalian tidak percaya ciumlah ini (menyodor-nyodorkan handuknya).

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah yang disodori handuk menghindar karena merasa jijik)

Jubah Hitam               :      Begini saja ! bagaimana pun juga kita butuh kepastian untuk memastikan bahwa dia bukan Pendekar Berkacu. Jadi mau tidak mau, suka atau tidak suka terpaksa kita harus mencium handuk itu untuk membuktikannya.

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) Hah… lalu siapa yang akan menciumnya (dan mereka kembali saling tatap dan kembali mengerutkan hidungnya merasa jijik)

Pencari Kayu Bakar  ;      Ya, sudah menurutku kalian tidak usah mencium handuk ini. Kalian tinggal percaya saja padaku. Kan beres. (memberanikan diri memberi usul karena memang ia pun menjadi sedikit tersinggung)

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha… tidak! Tidak bisa ! kau tidak bisa begitu saja bisa melewati kami.

Jubah Hijau                :      He…he…he… aku punya usul bagiamana kalau kamu saja sendiri yang mencium handukmu itu, Kisanak !

Pencari Kayu Bakar  :      oh… tidak masalah, karena ini bau badanku aku tak pernah mempermasalahkannya. Bagiku bau badanku sedap-sedap saja ko. (sambil mencium-cium handuknya)

Semua Jubah            :      (dengan tiba-tiba) huok..huok…menjijikan..huok…

Pencari Kayu Bakar  :      (melongo heran dibuatnya, namun ia pun akhirnya merasa lucu juga melihat kejadian itu) .

Jubah Hitam               :      Kawan-kawan! Sekali lagi aku ingatkan kita harus lakukan apapun demi menggagalkan misi Pendekar Berkacu. Kita harus siap menghadapi resiko apa pun yang kita hadapi!

Jubah Biru                  :      Buuur… wek…wek… buuur…wek…wek…benar kita bersama-sama mencium handuk itu supaya adil. Bagaimana ?

Jubah Hitam               :      Ya…kurasa hanya itulah jalan keluarnya.

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan akhirnya dengan berat hati mereka semua menganggukan kepala)

Jubah Hitam               :      (membentak sewot) Kisanak, untuk membuktikan bahwa kau bukan Pendekar Berkacu. Acungkan benda yang kau pegang itu, kami akan menciumnya bersama-sama.

Pencari Kayu Bakar  :      Ya…ya… akan saya lakukan (sedikit ketakutan sambil segera mengacungkan handuknya itu)

Jubah Hitam               :      Ayo semua kita bersama-sama menciumnya !

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah akhirnya bersama-sama mencium handuk tersebut. Karena baunya sangat tak sedap semua makhluk berjubah terongkek-ongkek. Mereka tidak tahan mencium bau handuk itu dan mereka pun tergeletak lemas dibuatnya) huok….huok….huok….. (jatuh pingsan)

Pencari Kayu Bakar  :      Dasar makhluk bodoh ! Mampuslah kalian ! (ia pun segera melambai-lambaikan tangannya ke luar panggung) Pangeran…Pendekar… ayo kemari ! semua sudah dapat kuatasi !

Pendekar Berkacu    :      (masuk setengah berlari) Terima kasih paman, aku akan melanjutkan perjalananku.

Pencari Kayu Bakar :      Pergilah Pangeran, semoga selamat sampai tujuan (berjabat tangan).

Pendekar Berkacu    :      (keluar setengah berlari)

Pencari Kayu Bakar :      (kembali melihat-lihat makhluk-makhluk seram yang sedang tergeletak, ia  merasa lucu dan akhirnya tertawa terpingkal-pingkal sambil keluar dari panggung) Ha…ha…he…he….he…ho…ho…ho…..

Lampu padam

Babak XIII

Suasana di puncak Bukit Pramuka. Tampak dua orang penjaga gagah berani sedang berdiri mematung di sana.

Pendekar Palsu         :      (masuk dengan nafasnya tersengal-sengal keringatnya bercucuran) Oh inikah puncak Bukit Pramuka itu. Oh ya, rupanya benar, ada dua orang pengawal di sana. (menghampiri pengawal)

Penjaga 1 dan 2        :      Berhenti ! Siapa kau dan hendak apa kau kemari ?

Pendekar Palsu         :      Permisi, Bapak Penjaga! Namaku Pandu putra Kerajaan Ambalan. Aku utusan dari Padepokan Tunas Kelapa maksudku datang kemari adalah untuk bertemu Yang Mulia Dewi Api Unggun.

Penjaga 1 dan 2        :      (saling menatap dan merasa curiga)

Penjaga 1                   :      Maaf, kisanak ! untuk menjamin bahwa anda adalah benar-benar utusan dari Padepokan Tunas Kelapa, ada beberapa hal yang harus anda jawab.

Pendekar Palsu         :      Baiklah. Aku sangat mengerti penjaga, silahkan pertanyaan apakah itu ?

Penjaga 2                   :      Kalau betul anda utusan dari Padepokan Tunas Kelapa. Apa nama julukan yang kamu sandang sekaran ini ?

Pendekar Palsu         :      Orang memanggilku Pendekar Berkacu.

Penjaga 1                   :      Apa yang dimaksud dengan Tunas Kelapa ?

Pendekar Palsu         :      Tunas berarti generasi yang siap tumbuh dan kelapa berarti berguna jadi tunas kelapa berarti generasi yang siap tumbuh dan berguna bagi nusa dan bangsa.

Penjaga 1 dan 2        :      (kembali saling menatap setelah itu mereka memberi hormat) Horma kami, Pendekar ! Silahkan Pendekar masuk dan di sana ada penjaga utama yang akan menunjukkan langkah berikutnya.

Pendekar Palsu         :      Terima kasih, penjaga ! (terus menghampiri penjaga utama yang terlihat lebih galak).

Penjaga Utama          :      Selamat datang,Kisanak !

Pendekar Palsu         :      Terima kasih, Bapak Penjaga Utama. Tunjukkanlah jalan untuk bertemu Dewi Api Unggun.

Penjaga Utama          :      Untuk bertemu Sang Dewi tidak semudah itu, Kisanak !

Pendekar Palsu         :      Saya sangat mengerti, Bapak Penjaga!

Penjaga Utama          :      Untuk itu ada beberapa pertanyaan yang harus kamu jawab, Kisanak!

Pendekar Palsu         :      Silahkan, Bapak Penjaga!

Penjaga Utama          :      Hendak apa, kau mau bertemu Yang Mulia Dewi Api Unggun ?

Pendekar Palsu         :      Maksud dan tujuanku adalah untuk mendapatkan Kitab Dasa Dharma.

Penjaga Utama          :      Katakan apa yang dimaksud dengan Dasa Dharma itu ?

Pendekar Palsu         :      Dasa berarti sepuluh dan Dharma adalah Pengabdian. Jadi Dasa Dharma itu berarti sepuluh langkah pengabdian.

Penjaga Utama          :      Sekarang sebutkan Dasa Dharma itu ?

Pendekar Palsu         :      Maaf penjaga, rupanya ini terlalu mengada-ada. Hamba kan sudah bisa menjawab beberapa pertanyaan yang sudah diajukkan. Hamba kira sudah cukup untuk membuktikan bahwa hamba adalah Pendekar Berkacu.

Penjaga Utama          :      Sebutkan Dasa Dharma (membentak keras)

Pendekar Palsu         :      (kaget)  A…ku tak akan sanggup mengatakannya…Aku tak sanggup…

Penjaga Utama          :      Hengkanglah kau dari sini, Pendekar Palsu ! Sebelum kugunakan kekerasan untuk mengusirmu !

Pendekar Palsu         :      Ya…aku akan segeri pergi (lari tunggang langgang).

Pendekar Berkacu    :      (masuk dengan nafasnya tersengal-sengal keringatnya bercucuran) Terima kasih, Tuhan telah kau bimbing hamba sampai di tempat ini. (menghampiri pengawal)

Penjaga 1 dan 2        :      Berhenti ! Siapa kau dan hendak apa kau kemari ?

Pendekar Berkacu    :      (memberi hormat) Salam Pramuka !

Penjaga 1 dan 2        :      (membalas hormat) Salam ! Hormat kami, Pendekar Berkacu. Silahkan Penjaga Utama tengah menunggumu di dalam. Masuklah !

Pendekar Berkacu    :      Terima kasih, Kak ! (masuk menghampiri penjaga utama dan langsung memberi salam) salam Pramuka !

Penjaga Utama          :      (membalas hormat) Salam ! Hormat kami, Pendekar. Silahkan Yang Mulia Dewi Api Unggun tengah menantimu.

Pendekar Berkacu    :      Terima kasih, Kakak Penjaga Utama !

(Tiba-tiba seberkas cahaya muncul dan bersamaan dengan itu, muncullah Sang Dewi Api Unggun dengan mengemban Kitab Dasa Dharma. Dengan segera semua yang ada di tempat itu memberikan salam bakti). Salam bakti kami Dewi !

Dewi Api Unggun      :      Berdirilah kalian semua ! (menatap Pendekar Berkacu) Pendekar ! kitab ini kuberikan padamu untuk kau amalkan dalam hidupmu dan kau baktikan pada nusa bangsamu.

Pendekar Berkacu    :      Terima kasih, Yang Mulia Dewi Api Unggun! Perintah ini adalah amanat yang harus hamba laksanakan sebagai sebuah kewajiban.

Dewi Api Unggun      :      Kami merasa senang dan nyaman, kitab ini jatuh ke tangan pribadi sepertimu, Pendekar! Kembalilah pada orang tuamu, tugas telah menunggu di sana.

Pendekar Berkacu    :      Terima kasih, Nasihat Dewi akan hamba jalankan !

Dewi Api Unggun      :      Selamat jalan, Pendekar ! Selamat Berjuang !

Pendekar Berkacu    :      Hamba mohon diri. (memberi salam bakti lalu keluar)

Lampu padam

Babak XIV

Kembali pada keberadaan makhluk-makhluk berjubah di kaki Bukit Pramuka. Mereka masih tergeletak pingsan.

Jubah Hitam               :      (setengah meloncat dia terbangun) Hah… Kurang ajar… sialan…sialan….(melihat semua teman-temannya yang sedang tergeletak) Semuanya cepat bangun ! (berteriak membentak keras sekali)

Semua Jubah            :      (Dengan serempak mereka pun kaget dan meloncat terbangun) Hah…tidak !

Jubah Hijau                :      Celaka, Pendekar Berkacu pasti sudah sampai ke Puncak Bukit Pramuka !

Jubah Cokelat            :      Teman-teman kita harus segera menyusulnya.

Jubah Biru                  :      Buuur…. wek..wek… buuur… wek… wek… kita belum terlambat. Sebelum pendekar itu kembali ke istana, kita harus berjuang keras merebut kitab itu dari tangannya. Buur weeeeek….

Jubah Hitam               :      Sudah tidak ada waktu lagi. Sekarang juga kita harus mengambil tindakan.

Semua Jubah            :      (Dengan serempak) benar….kita tidak boleh terlambat !

Jubah Hijau                :      He…he…he… Lihat kawan. Kali ini aku tidak akan salah (sambil menunjuk ke kejauhan). Lihat…Ayo semua lihat !

Jubah Hitam               :      (melihat ke arah yang ditunjuk) Benar ! Dia pasti Pendekar Berkacu, orang yang kita cari-cari.

Jubah Cokelat            :      (melihat ke arah yang ditunjuk) ya… aku yakin, lihat kawan tangannya menggemban sebuah kitab. Dan itu pasti Kitab Dasa Dharma yang kita cari-cari.

Semua Jubah            :      (melihat ke arah tersebut)

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha….kawan-kawan kali ini kita tidak boleh gagal lagi. Ayo semua siap-siap.

Semua Jubah            :      Ya…ayo…ayo…(semua bergerak menempati posisi masing untuk menghadang Sang Pendekar)

Pendekar Berkacu    :      (masuk, ia tidak melihat bahwa di sekililingnya ada makhluk-makhluk berjubah)

Jubah Hitam               :      (memberi isyarat kepada semua jubah untuk memperlihatkan diri)

Semua Jubah            :      (memperlihatkan diri dan menghampiri Pendekar Berkacu sambil tertawa terbahak-bahak)

Pendekar Berkacu    :      (kaget) Siapa kalian ?

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha… serahkan sekarang juga kitab itu padaku, anak kecil !

Jubah Hijau                :      He…he…he… tidak usah banyak acara, kamu serahkan saja kitab itu terus kamu boleh meneruskan parjalananmu. Mudah kan ? He…he…he…

Pendekar Berkacu    :      Tidak bisa ! Kitab ini akan aku pertahankan sampai titik darah penghabisan.

Jubah Cokelat            :      Ho…ho…ho… ayo tunjukkan kehebatanmu, Pendekar !. Berarti kau memilih mati, hah ?

Jubah Hitam               :      Serang ! (memberi komando)

Semua Jubah            :      (dengan serempak mereka saling berpegangan tangan melingkari Pendekar. Mereka seperti sedang menyatukan kekuatan tenaga dalam untuk menghancurkan Pendekar. Seluruh tubuhnya bergetar)

Pendekar Berkacu    :      (badannya berputar-putar terkena pengaruh serangan lawan semakin lama semakin keras dan akhirnya terjatuh lemas dari mulutnya keluar darah)

Semua Jubah            :      (semua makhluk berjubah saling menatap satu sama lain dan mereka akhirnya tertawa)

Jubah Hitam               :      Ha…ha…ha…. Awas tetap waspada ! Kita dekati dia untuk ambil kitabnya.

Semua Jubah            :      (Dengan serempak bergerak bersama mendekati Pendekar yang sedang tergeletak)

Pencari Kayu Bakar  :      (dengan tiba-tiba ia terbangun dan mengacungkan Kitab Dasa Dharma dan di arahkan kepada makhluk-makhluk berjubah) Dasa Dharma……! (berteriak keras sehingga mengeluarkan kekuatan yang sangat dahsyat)

Semua Jubah            :      Tidaaaak…. (semua terpental jatuh dan akhirnya tak bergerak lagi)

Pendekar Berkacu    :      (dengan badan sempoyongan berusaha berdiri tegak. Dengan tertatih-tatih ia meneruskan perjalanannya kembali ke istana) (keluar)

Lampu padam

Babak XV

Suasana kebahagiaan menyelimuti keluarga Kerajaan Ambalan, mereka mengadakan pesta syukuran atas kembalinya Pangeran Pandu dan berakhirnya musibah yang sudah melanda negeri.  Tampak berjubel warga datang menghadiri pesta kebahagiaan tersebut.

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 3 kali)

Pengawal 2                :      (masuk) Saudara-saudara ! Seluruh warga kerajaan. Terima kasih atas kedatangan saudara pada Acara Syukuran Pihak Kerajaan Ambalan atas berakhirnya musibah yang telah melanda negeri ini serta kembali Pangeran Pandu dari perantauannya.

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 3 kali)

Pengawal 2                :      Untuk itu mari kita sambut, inilah Yang Mulia Baginda Raja Prabu Laksana beserta Nyai Permaisuri…

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 1 kali)

Prabu Laksana          :      (masuk bersama Permaisuri dikawal dua orang pengawal dan langsung duduk di singgasana)

Penduduk                   :      Hidup… Baginda Raja…hidup Baginda Prabu…hidup…Baginda Raja Prabu Laksana…

Prabu Laksana          :      (berdiri, menggapaikan tangannya) Hidup Kerajaan Ambalan! Jayalah Bangsaku !

Penduduk                   :      Hidup….hidup…hidup…

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 3 kali)

Pengawal 2                :      Untuk memeriahkan acara ini, marilah kita saksikan sebuah pemetasan tari “Topeng rampak” dari Cirebon.

Penduduk                   :      (tepuk tangan sangat meriah, menyambut pementasan Tari “Topeng  rampak” yang dimainkan oleh anak-anak)

Pengawal 2                :      Yah, demikianlah sebuah tarian yang cukup menarik telah dimainkan oleh anak-anak kita.

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 1 kali)

Pengawal 2                :      Kini tibalah saatnya kita pada acara inti, yaitu syukuran atas berakhirnya musibah yang melanda negeri ini serta kembalinya Sang Pangeran atau Pendekar kita Pendekar Berkacu, kita sambut inilah Pangeran Pandu …

Pangeran Pandu       :      (masuk mengenakan kostum pendekar lengkap dengan  tongkat dan kacu sambil menggapaikan tangannya pada penduduk dan segera menghaturkan sembah bakti pada kedua orang tuanya)

Penduduk                   :      (tepuk tangan sangat meriah menyambut kedatangan Pangeran Pandu) Hidup Pangeran tercinta, hidup pangeran penerus tahta, hidup Pangeran Pandu …hidup Pendekar Berkacu…

Pengawal 1                :      (masuk, memukul gong 3 kali)

Pengawal 2                :      Harap tenang saudara-saudara, sekarang kita dengarkan amanat dari Baginda Raja tercinta. Kepada Baginda Raja disilahkan !

Prabu Laksana          :      (berdiri didampingi permaisuri sambil menggandeng Pangeran Pandu) Seluruh rakyatku tercinta. Hari ini adalah hari yang sangat bahagia bagi kerajaan kita, karena hari ini akan kita rayakan syukuran atas kembalinya Sang Pangeran dari pengembaraannya yang sekaligus mengakhiri musibah yang melanda negeri ini.

Penduduk                   :      Hidup Pangeran Pandu… hidup Pendekar Berkacu.

Prabu Laksana          :      Dan hari ini pula akan saya umumkan sebuah kabar gembira untuk rakyatku semua. Mulai sekarang ini di seluruh pelosok negeri ini setiap sekolah mewajibkan siswanya mengikuti kegiatan ekstra kurikuler.

Penduduk                   :      Hidup  Baginda Raja… Hidup Baginda Prabu Laksana …

Pengawal 2                :      Kini kita dengarkan sambutan berikutnya dari Pangeran Berkacu eh maaf Pangeran Pandu alias Pendekar Berkacu.

Pangeran Pandu       :      (melambaikan tangannya) Terima kasih rakyatku ! kebahagiaanku yang utama pada hari ini adalah dimana aku lihat semua anak-anak negeri ini telah kembali pada semangat yang baru. Semangat untuk maju, semangat untuk belajar, dan bangkit dari ketertinggalan.

Penduduk                   :      Hidup  Pangeran Pandu …..Hidup Pendekar Berkacu…

Pangeran Pandu       :      Terima kasih rakyatku semua, rakyatku tercinta. Dan sejalan dengan program yang telah dicanangkan Raja, maka akupun mengajak kepada semua anak-anak negeri ini untuk mengadakan kegiatan Pramuka di sekolah-sekolah.

Penduduk 1                :      Mohon petunjuk, Baginda. Apa yang dimaksud Kegiatan Pramuka itu, Baginda ?

Pangeran Pandu       :      Sebuah pertanyaan yang bagus. Ketahuilah rakyatku, bahwa Kegiatan Pramuka adalah kegiatan Praja Muda Karana yang berarti kegiatan yang akan mengkaryakan  anak negeri ini.

Penduduk                   :      Hidup Pangeran Pandu … Hidup Pendekar Berkacu …Hidup Program Kegiatan Pramuka.

Prabu Laksana          :      Mulai detik ini mari kita bersama-sama perangi kebodohan, dengan terus belajar dan belajar dengan mengisi waktu luang oleh sesuatu yang lebih bermanfaat dan untuk  itu aku wajibkan semua anak-anak harus mengikuti kegiatan ekstra kurikuler di sekolahnya.

Penduduk                   :      Hidup Baginda Raja … Hidup Program Kegiatan Ekstra kurikuler …

Prabu Laksana          :      Terima kasih rakyatku, silahkan kalian nikmati terus acara syukuran ini. Selamat berbahagia ! Dan jangan lupa Belajar, belajar dan belajar ! (semua pemain keluar dari panggung)

Penduduk                   :      Hidup Baginda Raja … Hidup Pangeran Pandu …Hidup Pendekar Berkacu.

Kunang-kunang        :      (masuk ke panggung mengakhiri pementasan dengan tari dan lagu gembira)

LAGU ESKUL

Siapa bisa siapa bisa

Berbaris rapih bagai tentara

Ayolah berlatih bersama

Di eskul Paskibra

Siapa bisa siapa bisa

Menari dan menyanyi

Ayolah berlatih bersama

Di eskul Kesenian

Siapa bisa siapa bisa

Cakap dalam berbagai bidang

Ayolah berlatih bersama

Di eskul Pramuka

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Janganlah kau bermalas-malasan

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Kalau kau malas akan ketinggalan

Siapa bisa siapa bisa

Berprestasi dalam olah raga

Ayolah berlatih bersama

Di eskul olah raga

Siapa bisa siapa bisa

Mencintai alam semesta

Ayolah berlatih bersama

Di eskul Pecinta Alam

Siapa bisa siapa bisa

Cakap dalam berbagai bidang

Ayolah berlatih bersama

Di eskul Pramuka

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Janganlah kau bermalas-malasan

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Eskul…eskul… ekstra kurikuler

Kalau kau malas akan ketinggalan

Perlahan-lahan lampu padam

Selesai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: