ku akui akulah yang salah

pengadilan seorang GURU
(sebuah refleksi jati diri guru)

Diat Ahadiat, S.Pd

Sadarkah kita?
Ada apa dengan pendidikan kita?
pendidikan kita bukan lagi ketinggalan
ataupun jalan di tempat
tapi, sudah jauh mundur dan semakin jauh ke belakang

Penggalan kalimat di atas akan terasa mengganggu kita (guru) yang sudah merasa benar dengan segala pembelajaran yang sudah benar-benar dilakukannya dengan benar, tapi benarkah ?
Lalu, apanya yang tidak benar ? dan bila memang pertanyaan itu lantas muncul dalam pemikiran anda. Percayalah, anda (guru) telah melakukan sebuah kesalahan yang tak pernah akan anda sadari selamanya. Itulah paradigma.
Menghadapi tantangan perubahan sosial yang semakin cepat, pendidikan masa depan perlu sejak dini melatih peserta didik untuk mampu belajar secara madiri dengan memupuk berbagai aspek. Seperti yang dicanangkan UNESCO dalam mempersiapkan pendidikan abad XXI, peserta didik perlu dilatih untuk bisa berpikir (learning to think), bisa berbuat atau melakukan sesuatu (learning to do), dan bisa menghayati hidupnya menjadi seorang pribadi sebagaimana ia ingin menjadi (learning to be). Tidak kalah penting dari itu semua adalah belajar bagaimana belajar (learning how to learn), baik secara mandiri maupun dalam kerja sama dengan orang lain, karena mereka juga perlu belajar untuk hidup bersama orang lain (learning to live together).
Dewasa ini masyarakat dan para orang tua murid sudah terlanjur menyerahkan pendidikan anak-anak mereka sepenuhnya pada sekolah, karena memang sekolah adalah sebagai lembaga formal yang bertugas dan bertanggung jawab memberikan pelayanan pendidikan, maka sekolah memang harus bertindak.
Tujuan pendidikan adalah menjadikan peserta didik “manusia yang utuh sempurna” atau manusia purnawan” (Driyarkara, 1980: 129). Tercapainya “kesempurnaan” ditunjukkan oleh terbentuknya” pribadi yang bermoral” atau moral characters (Montemayor, 1994: 11). Maka, jika dilaksanakan secara konsekuen, setiap pendidikan harus diarahkan pada tujuan pembentukan pribadi yang bermoral. Pribadi yang bermoral adalah yang memiliki kemampuan untuk mengelola hidupnya sesuai dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan. Kemampuan seperti itu ada pada hati nurani yang telah mencapai kedewasaan. Maka, segala usaha yang bertujuan untuk membina hati nurani mesti diarahkan agar peserta didik mempunyai kepekaan dan penghayatan atai nilai-nilai yang luhur.
Lantas, apanya yang salah dengan kita? Dalam tahun-tahun terkahir ini beribu penghargaan berhasil diraih oleh anak didik kita. Anak Indonesia berhasil meraih prestasi juara olympiade matematika, olympiade fisika dan yang terakhir berhasil sebagai juara dengan menyisihkan bangsa-bangsa lain di dunia dalam kejuaraan olympiade computer. Kita seolah lega dan dapat tersenyum bangga dan sekaligus membuat kita lupa terhadap sebuah penelitian dunia yang telah menempatkan bangsa kita sebagai bangsa terkorup di alam jagad raya ini.
Sadarkah kita?, Dalam tahun-tahun terkahir ini pun di bumi Indonesia ada fonemena kekerasan yang terjadi terus menerus dan dimana-dimana dalam skala yang semakin luas dan serius. lembaran-lembaran hitam bangsa ini sebagai bangsa yang ganas dan arogan telah mewarnai jati diri bangsa ini, kejadian-kejadian menjijikan bahkan tak berkeprimanusiaan seperti kasus-kasus mutilasi, perampokan, pembunuhan sudah merupakan hal yang lumrah kita temuka di halaman-halaman media informasi negeri ini. Dalam hitungan detik berita tentang kebusukan ini sangat kental dengan nuansa kehidupan bangsa dapat dengan mudah diketahui oleh bangsa-bangsa lain di seantero dunia. Semua itu seolah menjadi tontonan seluruh penduduk bumi dan memberi gambaran yang buruk mengenai citra kita sebagai suatu bangsa. Mengapa ini semua terjadi pada bangsa kita, yang sebelumnya dikenal sebagai bangsa yang ramah, suka bergotong-royong, suka bertoleransi, suka hidup dalam damai dan kerukunan, dan yang berbudaya tinggi ? untuk sementara mungkin salah satu jawabannya adalah bahwa itu semua merupakan akibat dari kegagalan sektor pendidikan dalam melaksanakan pendidikan nilai.
Apalah artinya kita mencetak generasi yang pintar dan mahir membuat perhitungan-perhitungan matematika kalau pada akhirnya mereka menjadi sangat piawai membuat perhitungan-perhitungan yang menggiringnya pada pemikiran untuk korupsi.
Apalah artinya kita mencetak generasi yang paham dan lincah mengatur strategi pemerintahan kalau pada akhirnya mereka menjadi pecundang-pecundang bahkan dengan mudah menggadaikan kepentingan bersama dengan menjadi kacung kampret sebuah kebijakan.
Sekali lagi, mengapa ini terjadi ? Jadi tampak jelas sekali bahwa situasi pendidikan kita terakhir ini kurang menumbuhkan kesadaran akan nilai-nilai luhur, yang menjadi motor penggerak perkembangan peserta didik kea rah hidup yang manusiawi. Hasil pendidikan nilai adalah perubahan perilaku atau transformasi hidup yang terjadi di dalam batin, yang kemudian mewujud dalam perilaku lahiriah.
Pertanyaannya adalah, adakah pendidikan ini berperan fungsi di negeri ini ? Sudahkah sumbangsih kita kaum pendidik (guru) menunjukkan profesioinalitas kita untuk negeri ini ? masihkah kita pendidik (guru) layak akan gelar pahlawan di negeri ini ketika banyak sekali fenomena-fenomena tak membahagiakan ini ? Saat hati kita bergetar entah itu karena merasa setuju dengan refleksi penulis atau bahkan marah karena merasa tersudutkan. Yakinlah tak sedikit pun disposisi ini mempunyai niatan ke arah tersebut. Satu kejernihan dalam kubangan lumpur negeri ini adalah hati nurani kita sebagai pendidik yang akan membawa negeri ini pada harapan banyak doa menuju bangsa yang mampu mensejajarkan dirinya dengan bangsa lain di dunia dan menjadi bangsa yang bermartabat.
Mengingat tantangan di atas, pendidikan masa depan perlu menekankan pentingnya dan mengupayakan terlaksananya pendidikan nilai. Dengan keberhasilan pendidikan nilai, dampak negative kemajuan sains dan teknologi pada dirinya yang masih bersifat mendua nilai , bisa membawa dampak yang negative dan destruktif atau pun yang positif dan menyejahterakan manusia. Semuanya tergantung dari manusia pencipta dan penggunanya. Pendidikan nilai sebagai bagian hakiki pendidikan ikut menentukan kualitas manuasia dan pengguna teknologi di masa depan. Dalam praktiknya, para pendidik di lingkungan sekolah biasanya lebih suka membatasi perannya sebagai “pengajar”, “penanam”, atau paling jauh sbagai “penyadar” nilai saja, karena tataran praktik-penghayatan nilai-nilai lebih merupakan kewenangan individu untuk melaksanakan sesuai dengan kebebasannya. Para pendidik biasanya sekedar berusaha agar para peserta didik memiliki kesadaran nilai, yang pada gilirannya diharapkan dapat memotivasi mereka untuk berperilaku yang baik, yang sesuai dengan nilai-nilai luhur. Sasaran pendidikan nilai adalah agar peserta didik dapat mengalami dan menghayati nilai-nilai. Kiranya, nilai-nilai itu bukan sekedar untuk diajarkan dan diketahui saja, melainkan terlebih untuk dialami dan dihayati.
Dimasa-masa yang akan datang, kita memang harus menghidupkan lagi pendidikan nilai di bumi Indonesia ini, yang telah beberapa dasa warsa ini mati merana atau sekarat kerena kekurangan gizi. Untuk itu kita tidak usah menunggu instuksi dari atas. Kita harus mau dan berani mengambil inisiatif, betapa pun mungkin awalnya tidak mudah.
.Kita harus banyak berinisiatif untuk memperhatikan pendidikan nilai bagi anak-anak kita. Jika kita peduli pada mereka, mereka pun akan sadar dan memiliki niat untuk mengikuti apa yang kita tunjukkan kepada mereka, walaupun mereka harus mengalami jatuh-bangun terlehih dahulu untuk akhirnya sampai ke tujuan.
Saat ini, hati anak-anak Indonesia banyak yang buta, tuli, lumpuh, dan sakit, sehingga mereka buta terhadap kebenaran dan kebaikan, dan lantas mudah sekali membabi buta melakukan tindak kekerasan, menjadi brutal, kecanduan narkoba, dll. Mereka menjadi begitu, karena mereka mendapat contoh dan belajar dari lingkungannya. Kita para pendidik (guru dan orang tua) tidak boleh membiarkan keadaan yang meprihatinkan sekarang ini menjadi lebih parah lagi. Maka, anak-anak yang berada dalam jangkauan kita, harus kita beri pendidikan nilai, supaya hidup mereka sungguh menjadi berkualitas.
Walau hanya sebuah refleksi, semoga memberi kita momentum baru membuka cakrawala mendidik bangsa ini dengan keutuhan nan hakiki. Orang bijak mengatakan, sangat tak bijak bila kita melakukan kesalahan yang sebenarnya kita ketahui itu akan membawa kita pada hal yang sangat merugikan.
Penulis berdo’a khususnya untuk penulis sendiri, Semoga dalam mengemban tugas ini diberkahi kebersihkan hati untuk tak pernah lagi melihat fitrah (pendidik) pada sebuah sanjung puja yang sebenarnya tak sedikitpun memberi arti (ketulusikhlasan belaka).
Maafku untuk pendidikan negeriku
Kepada semua anak didikku, maafkan aku
Ya Allah akulah yang salah, bawalah hati ini tetap pada bingkai- Mu.
Tetapkan hati ini terus berjiwa memandang anak didikku atas asma- Mu.
Dan hanya Karena- Mu.
Amin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: