Masuk UT Sebuah Cambuk dan Mimpi

Ketika semua GURU BERBURU Sertifikasi

“Masuk UT”, kalimat ini sudah tidak asing lagi menjadi buah pembicaraan kalangan pendidik baik dilingkungan tempat mereka bekerja maupun di tempat-tempat lain mereka berkumpul dalam komunitasnya.

Entah apa yang ada dalam benak mereka, “Ibarat makan buah simalakama” mungkin pribahasa itu lebih tepat bila penulis sandingkan dalam ilustrasi ini.

Untuk meningkatkan profesionalisme dan tuntutan banyak pihak masuk UT adalah jurus jitu bagi sebagian guru, dibagian yang lain ada juga yang menganggapnya pil pahit ditengah beratnya beban memikul kondisi ekonomi keluarga. Sebut saja Pak Iyok seorang guru yang sudah mengabdi selama 25 tahun.  separuh hidupnya sudah dihabiskan untuk mengajar dan mendidik anak bangsa ini.

Sungguh tak diragukan lagi betapa piawainya (baca professional) Guru Iyok dalam menghadapi anak didiknya dan mencetaknya menjadi kader-kader bangsa ini. Survey membuktikan, pak camat yang bertugas di wilayahnya itu pun mengakui bahwa Pak Iyok adalah bekas gurunya (istilah yang tepat khusus untuk Guru Iyok demi menjaga performan seorang pejabat yang gagah dan terhormat). Bukan hanya pak camat , dokter Ahdiat pun seorang kepala puskesmas di tempatnya tinggal mengatakan hal yang sama. Terlepas apa yang dikatakan mereka tentang predikat Pak Iyok, yang jelas banyak fakta dan jasa yang sudah diukir olehnya sebagai seorang pendidik. Apakah Pak Iyok belum pas bila kita berikan sertifikat guru yang jejeg (istilah lain untuk sertifikasi).

Suatu waktu Pak Iyok mengikuti sebuah acara sosialisasi UT di lingkungan tempatnya bekerja. Seorang Dosen yang usianya jauh lebih muda dengan antusias dan meyakinkan memberikan gambaran dan arahan tentang pentingnya masuk UT sebagai solusi menghadapi tuntutan profesionalisme pendidik. Dalam keseriusannya memperhatikan setiap kalimat yang terucap dari sang pembicara muda itu, mendadak terngiang ditelinganya suara anaknya menangis karena kehabisan susu, serta sesekali terdengar ocehan Ceu Cucu seorang tukang warung yang telah banyak menyambung hidupnya sehari-hari.

Nafasnya tersengal, matanya mendadak tak lagi bersinar, Pak Iyok menelan ludahnya yang memang terasa pahit. Pak Iyok bangkit, panggilan nuraninya mengatakan “Aku harus pulang!” Pak Iyok pergi keluar dari ruangan meninggalkan mimpi dan ketidakadilan bagi nasibnya.

Masuk UT bagi kita para pendidik adalah kebahagian yang patut kita syukuri dengan meningkatkan kinerja dan profesionalitas.  Dan Pak Iyok adalah bagian dari kita yang boleh kita pungkiri keberadaannya. Itulah cambuk bagi kita, cambuk bagi dunia pendidikan kita.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: