Cara Mudah Menanamkan Konsep Dasar Operasi Hitung Bilangan Bulat
A. Kondisi Siswa Sebelum Pembelajaran Inovatif :
1. Minat siswa dalam belajar matematika sangat kurang hal ini terbukti dari sikap dan perilaku siswa dalam menghadapi mata pelajaran ini sebagai sesuatu yang menakutkan.
2. Prestasi siswa dalam mata pelajaran matematika sangat jauh dari harapan hal ini terlihat dari hasil ulangan harian kurang dari 50 % siswa yang berhasil mencapai kompetensi dasar dan tujuan pembelajaran.
3. Sikap siswa dalam memanfaatkan lingkungan menjadi sesuatu yang dapat berguna sangat miskin kreatifitas.
4. Jiwa untuk berkarya dan mengaktualisasikan nilai-nilai pembelajaran dalam konteks kehidupan sehari-hari sangat memprihatinkan sehingga tidak memupuk rasa kewirausahaan dalam dirinya.
B. Inovasi Pembelajaran yang dilakukan
1. Guru harus menciptakan suasana belajar matematika yang menyenangkan yaaitu dengan menyajikan model pembelajaran yang akrab dengan lingkungan dan kehidupan bermain siswa dalam hal ini permainan CD warna.
2. Guru harus kreatif dan responsif menghadapi kondisi/ prestasi siswanya dengan mencipatakan inovasi pembelajaran yang didukung dengan inovasi alat peraga sehinggga mampu mendongkrak prestasi siswa dalam hal ini alat peraga papan magnetik.
3. Guru harus kaya improvisasi dalam memanfaatkan lingkungan menjadi media pembelajaran, sehingga siswa merasa tak asing dan akrab dengan materi yang akan dipelajarinya dalam hal ini memanfaatkan limbah rumah tangga sebagai alat peraga papan magnetic dan CD warna.
4. Guru harus mampu mengintegrasikan nilai-nilai pembelajaran dengan konteks kehidupan siswa sehingga tercipta relevansi dengan tuntuan hidupnya di masyarakat yaitu dengan mengadakan refkeksi pembelajaran.
C. Kondisi siswa setelah diberikan pembelajaran inovatif
1. Minat siswa terhadap pembelajaran terjadi perubahan yang signifikan, hal ini terbukti dengan sikap antusias siswa selama pembelajaran.
2. Prestasi siswa sangat memuaskan, karena terjadi peningkatan dari kategori kurang separuh siswa yang menguasai materi sebelum uji coba pembelajaran menjadi hampir 100 % siswa dapat menuntaskan pembelajaran setelah uji coba pembelajaran.
3. Sikap siswa dalam menghargai lingkungan sekitarnya sangat positif, hal ini terlihat dari kegembiraan siswa dalam memanfaatkan limbah sebagai sesuatu yang berguna bagi dirinya.
Jiwa untuk berusaha dan berkarya semakin terpupuk dalam diri siswa, hal ini terlihat dari kesadaran dan semangat berkompetisi dalam membuat alat peraga .
<!– /* Font Definitions */ @font-face {font-family:Calibri; mso-font-alt:”Century Gothic”; mso-font-charset:0; mso-generic-font-family:swiss; mso-font-pitch:variable; mso-font-signature:-1610611985 1073750139 0 0 159 0;} /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; text-align:justify; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:Calibri; mso-fareast-font-family:Calibri; mso-bidi-font-family:”Times New Roman”;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
LABORATORIUM MORAL SEBAGAI MEDIA PENDIDIKAN BUDI PEKERTI
DALAM MEMBANGUN FORMAT PENDIDIKAN NILAI DI SEKOLAH DASAR
RINGKASAN
Penulis tertarik mencari inovasi dalam model pembelajaran yang dapat mengintegrasikan nilai-nilai budi pekerti karena merupakan masalah aktual dan sedang mengalami keprihatinan di tengah perkembangan globalisasi dunia. Kehidupan masyarakat yang terus berkembang seiring proses persaingan menjadi sebuah tantangan. Merosotnya akhlak bangsa merupakan proses alami yang bergulir dalam revolusi kompleksitas kehidupan manusia.
Untuk itu dibutuhkan sebuah terobosan model pembelajaran kooperatif yang dapat menumbuhkembangkan minat siswa terhadap materi bahan ajar maupun proses pembelajaran yang serta merta meningintegrasikan nilai-nilai budi pekerti dalam pembelajaran. Penulis mencoba mengadakan penelitian tindakan kelas dan menyajikannya dalam sebuah karya tulis dengan judul “Laboratorium Moral sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti dalam Membangun Format Pendidikan Nilai di Sekolah Dasar” sebagai solusi atas hal tersebut di atas.
“Laboratorium Moral” adalah sebuah teknik dalam model pembelajaran kooperatif yang dikemas menjadi sebuah proses pembelajaran yang sarat dengan muatan nilai-nilai luhur budi pekerti. Siswa secara praktis akan berinteraksi sosial dalam proses pembelajaran dengan mengaplikasikan pendidikan budi pekerti. Pendidikan Budi Pekerti disajikan bukan hanya sebagai mata pelajaran yang disajikan pada jam-jam tertentu saja. Pendidikan budi pekerti dapat diberikan kepada siswa secara integral ke seluruh mata pelajaran melalui pengalaman nyata dalam proses pembelajaran secara kontekstual. Pendekatan novelty yang digunakan dalam pembelajaran ini adalah motif yang dapat menarik dan menantang siswa untuk aktif dalam pembelajaran. Pendekatan sosio-emosional yang mewarnai teknik ini sebagai strategi praktis terintegrasinya pendidikan budi pekerti dalam proses pembelajaran.
Tujuan dari penerapan model pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan serta merta menanamkan nilai-nilai budi pekerti dalam sikap/ prilaku melalui satu proses pembelajaran yang kooperatif. Hasil akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah mencetak kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual siswa sehingga mampu menghadapi tantangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Pada proses pembelajarannya, siswa diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk belajar sendiri, menemukan sendiri, merasakan sendiri nilai-nilai luhur yang telah diskenario oleh guru dalam deskripsi pengembangan sikap dan perilaku yang disusun dalam rencana pembelajaran. Guru berperan hanya sebagai fasilisator, mediator, inovator dan motivator dalam mengantarkan siswa menyelesaikan tugas (tujuan) pembelajaran dalam sebuah proses yang menarik dan secara in action mengaplikasikan pendidikan budi pekerti.
Kemampuan siswa dalam menguasai indikator pembelajaran menjadi sangat meningkat, dan kemampuan siswa dalam menerapkan nilai-nilai luhur pun sangat jelas dan mudah terukur. Hal ini karena proses pembelajaran sepenuhnya dilaksanakan oleh siswa dari siswa dan untuk siswa sehingga penilaian pun menjadi bagian tugas dari mereka untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan tuntas. Oleh karenanya, pelaksanaan pembelajaran selain berjalan menjadi sangat menyenangkan merekapun sangat akrab dengan dunianya yang sarat dengan budi pekerti, proses pembelajaran dalam kelas menjadi sebuah laboratorium moral yang memberikan pengalaman nyata dalam mengaplikasikan nilai-nilai luhur dalam praktek kehidupan sosial.
Kesimpulan dari uji coba pembelajaran ini terjadi banyak perubahan yang menggembirakan. Siswa menjadi senang dan bersemangat dan guru pun menjadi lebih kreatif dan inovatif. Kurikulum dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan dan lembaga pun (sekolah) dapat lebih meningkatkan peranannya dalam mengemban tugas pendidikan. Dengan demikian integrasi budi pekerti dalam pembelajaran dengan menggunakan teknik “Laboratorium Moral sebagai Media Pendidikan Budi Pekerti dalam Memebangun Format Pendidikan Nilai di Sekolah Dasar” dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan, Insya Allah.
<!– /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:”"; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:”Times New Roman”; mso-fareast-font-family:”Times New Roman”; mso-ansi-language:EN-GB; mso-fareast-language:EN-GB;} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} –>
/* Style Definitions */
table.MsoNormalTable
{mso-style-name:”Table Normal”;
mso-tstyle-rowband-size:0;
mso-tstyle-colband-size:0;
mso-style-noshow:yes;
mso-style-parent:”";
mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
mso-para-margin:0in;
mso-para-margin-bottom:.0001pt;
mso-pagination:widow-orphan;
font-size:10.0pt;
font-family:”Times New Roman”;
mso-ansi-language:#0400;
mso-fareast-language:#0400;
mso-bidi-language:#0400;}
”PENERAPAN MODEL PRAKTIK SEJARAH DENGAN TEKNIK BEDAH NASKAH UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN SEJARAH (IPS) DI KELAS V SEKOLAH DASAR”
(Format Baru Pendekatan Refleksi Sejarah di Sekolah Dasar )
ABSTRAKSI
Penulis tertarik mencari inovasi dalam model pembelajaran sejarah (IPS) karena merupakan disiplin operasional yang efektif memperhatikan studi tentang pengenalan dan pengembangan jati diri bangsa dan sedang mengalami keprihatinan di tengah perkembangan revolusi kompleksitas kehidupan. Masalah umum yang dihadapi oleh sebagian besar guru sekolah dasar dalam mengajarkan pelajaran sejarah (IPS) di sekolah dewasa ini adalah kurangnya kemauan dan kemampuan untuk mengembangkan model pembelajaran inovatif yang mendukung produktivitas pembelajaran sejarah. Kondisi riil saat ini adalah anak didik belajar dari guru dan buku teks, bersifat monolog dan bersifat rutinitas belaka, kurang variasi dan miskin improvisasi.
Pemahaman guru tentang pembelajaran sejarah yang hanya menyampaikan sejarah sebagai sebuah informasi yang harus diterima oleh peserta didik (behavioristik) merupakan paradigma lama yang harus dirubah menjadi sebuah proses pengajaran yang melibatkan peserta didik untuk berpikir cerdas, kreatif, partisipastif dan bertanggung jawab (konstruktivisme).
Model ”Praktik Sejarah” adalah sebuah model pembelajaran yang dirancang untuk membantu siswa agar memahami fakta, peristiwa, konsep, dan generalisasi melalui pengalaman belajar praktek empirik. Tema praktik belajar sejarah adalah nilai kejuangan yang terkandung dalam materi pembelajaran melalui pendekatan refleksi sejarah.
Teknik bedah naskah merupakan alternatif dan inovasi dalam kegiatan pembelajaran. Dengan pembelajaran ini siswa dihadapkan pada masalah sehari-hari dan berusaha untuk mencari alternatif pemecahannya. Dengan kata lain melalui pembelajaran ini mendekatkan konsep yang dipelajari pada objek secara nyata.
Tujuan dari penerapan model pembelajaran ini adalah untuk meningkatkan kualitas pembelajaran dengan serta merta menggali nilai-nilai sejarah dalam sikap/ prilaku melalui satu proses pembelajaran yang kooperatif. Disamiping itu melalui model pembelajaran ini diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan, pengertian, pemahaman dan daya nalar siswa semakin kreatif dan kritis-analitik, yang pada akhirnya diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil akhir yang ingin dicapai dalam pembelajaran adalah mencetak kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual siswa sehingga mampu menghadapi tantangan hidupnya dalam bermasyarakat.
Untuk mendukung produktivitas pembelajaran sejarah dilakukan pengembangan materi menjadi sebuah kemasan yang menarik serta media yang dapat mendukung terciptanya sebuah proses pembelajaran yang menyenangkan. Disinilah peranan guru dituntut untuk selalu kreatif dan inovatif.
Program atau skenario pembelajaran disusun dengan rangkaian inovatif dan sistematis yang memudahkan guru dalam melaksanakan pembelajaran. Perencanaan yang dirancang memuat komponen deskripsi pengembangan sikap/ prilaku yang digali dari materi sejarah yang diajarkan.
Pada proses pembelajarannya, siswa diberikan kesempatan dan kepercayaan untuk belajar sendiri bersama kelompoknya (peer teaching), menggali ( membahas, mengkritisi, mengapresiasi, merefleksi ) dan melakukan unjuk laku dari nilai-nilai yang terkandung di dalamnya (materi sejarah). Guru berperan hanya sebagai fasilisator, mediator, inovator dan motivator dalam mengantarkan siswa menyelesaikan tugas (tujuan) pembelajaran.
Kemampuan siswa dalam menguasai indikator pembelajaran sangat jelas dan mudah terukur, hal ini karena proses pembelajaran sepenuhnya dilaksanakan oleh siswa dari siswa dan untuk siswa sehingga penilaian pun menjadi bagian tugas dari mereka untuk dapat melaksanakan pembelajaran dengan tuntas. Oleh karenanya, pelaksanaan pretes dan penilaian dalam proses sudah dianggap cukup bila memang pencapaian tujuan pembelajaran sudah tuntas memenuhi target dan jelas terukur. Kegiatan postes dilaksanakan pada pertemuan yang khusus ketika seluruh pokok bahasan sudah selesai diberikan, namun demikian pelaksanaan postes bisa saja dilakukan di akhir pembelajaran bila memang dipandang perlu dan waktu yang tersedia mencukupi.
Kesimpulan dari uji coba pembelajaran ini terjadi banyak perubahan yang signifikan. Siswa menjadi senang dan bersemangat dan guru pun menjadi lebih kreatif dan inovatif. Hakikat sejarah sebagai mata pelajaran berhasil diselenggarakan dengan tatanan Paradigma Baru yang lebih produktif, tepat, efektif dan efesien. Kurikulum dapat tercapai dengan hasil yang memuaskan dan lembaga pun (sekolah) dapat lebih meningkatkan peranannya dalam mengemban tugas pendidikan. Dengan demikian Penerapan Model Praktik Sejarah dengan Teknik Bedah Naskah dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif model pembelajaran yang dapat meningkatkan mutu pendidikan, Insya Allah.


ada neng. nti bp krim kmna ?
maaf sy baru sempat jadi ngga mta ptk nya