Ketika Guru Malas Mengajar

Siapapun orang-orang pintar negeri ini, pasti pernah menjadi murid dan diajarkan ilmu pengetahuan oleh seorang guru. Seorang Kepala Dinas Pendidikan, seorang Menteri Pendidikan Nasional, bahkan seorang Presiden pun tidak lepas dari proses itu.

Mengingat betapa strategisnya, posisi guru dalam proses pendidikan suatu generasi. Tentu tidak membuat para guru untuk bermanja ria, dengan lebih mengutamakan hak-haknya untuk mendapat kehidupan yang layak. Upaya untuk meningkatkan profesionalitas dengan peningkatan kemampuannya, harus juga menjadi perhatian secara khusus.

Kemampuan seorang guru dalam mendidik, mengajar dan menjadi teladan bagi murid-muridnya, menjadi salah satu kunci keberhasilan dunia pendidikan kita. Dedikasi seorang guru untuk mencerdaskan anak bangsa, juga merupakan wujud nyata integritas guru terhadap tanah airnya.

Pada dimensi lain, kemajuan teknologi telah membuka mata dunia termasuk mata guru-guru dimanapun di pelosok kabupaten ini akan sangat mudah mengetahui perkembangan-perkembangan guru-guru lain di sekelilingnya. Tabrakan demi tabrakan ketidaksamaan perlakuan antara satu daerah dan daerah lain, dengan alih-alih otonomi daerah telah mengauskan sendi-sendi keagungannya sebagai sosok pengemban pencerdas anak bangsa.  Dalam sambutannya pada seminar sehari guru-guru profesional di Hotel Patra Jasa Cirebon, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Cirebon mengatakan bahwa Sertifikasi tidak menjamin membuat serta merta guru-guru menjadi lebih profesional. Bahkan malah mengundang kecemburuan sosial diantara sesama tenaga pengajar lainnya. Sebuah jeweran tentunya bagi kita semua, karena tak perlu ditutup-tutupi pernyataan beliau memang sebenarnya fakta yang terjadi dewasa ini. Apresiasi kita atas sebuah pernyataan beliau, tapi mari kita sama-sama instropeksi karena pendidikan bukan hal sederhana, yang membuat malas guru mengajar banyak faktor, bisa juga pada sendi kebijakan pimpinan yang dianggap tidak mumpuni akan sangat berpengaruh terhadap kinerja seorang guru. Hal yang manusiawi tentunya saat sebuah perlakuan dirasakan tidak sama terhadap sebuah objek dan komunitas yang sama, maka rasa ketidakadilan yang dirasakan akan membentur pada jatidiri profesionalitas guru. Karena guru juga manusia.

Selain tajuk di atas, penulis akan mencoba mengkaji pada kaca mata lain, karena era sekarang banyak sekali tersedia kaca mata- kaca mata terjual bebas, murah bahkan dengan beragam molek dapat dengan mudah kita pilih dan kita pakai.

Diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai alasan-alasan pasti di balik banyaknya guru yang malas mengajar. Tetapi setidaknya pada saat sekarang kita bisa membuat dugaan sementara (hipotesa) apa saja faktor-faktor penyebab malasnya guru masuk kelas.

Pertama, rendahnya penguasaan materi pelajaran. Guru yang tidak menguasai pelajaran lambat laun akan kewalahan menghadapi siswa-siswinya di kelas. Pada akhirnya apabila persoalan rendahnya penguasaan materi pelajaran ini tidak ditanggulangi dengan segera, maka akan mengakibatkan guru malas masuk mengajar.

Kedua, tidak menguasai metode mengajar. Penguasaan materi pelajaran saja tidak cukup. Guru juga harus mempunyai kemampuan mengajar yang baik. Sehingga, penguasaan metode mengajar yang inovatif dan bervariasi mutlak dikuasai oleh guru. Minimnya variasi mengajar guru mengakibatkan siswa cepat bosan. Kebosanan siswa pada akhirnya akan menjangkiti guru.

Ketiga, pengaruh lingkungan. Seorang guru muda baru lulus dan memiliki semangat mengajar yang tinggi secara tidak sadar dapat menjadi guru pemalas apabila berada pada sekolah yang tidak disiplin. Masuk atau tidak masuk kelas tidak pernah dipermasalahkan. Berada di lingkungan yang demikian akan membuat seorang guru idealis menjadi guru pemalas.

Keempat, faktor keluarga. Alasan keluarga tidak jarang membuat seorang guru tidak masuk kelas untuk memenuhi kewajibannya memberikan pelajaran kepada siswa-siswinya. Anak si guru yang sakit secara tiba-tiba, sementara si guru tidak punya siapa-siapa untuk membawa si anak ke rumah sakit.

Kelima, guru memiliki usaha lain yang lebih menjanjikan secara finansial. Dengan adanya usaha sampingan ini membuat guru kehilangan fokus terhadap profesi utamanya sebagai pengajar. Mengajar hanya dijadikan pekerjaan sampingan, sementara bisnis atau usahanyalah yang diutamakan.

Terakhir, rendahnya komitmen guru. Apapun nampaknya dapat dijadikan guru sebagai alasan di balik malasnya si guru mengajar. Tempat tinggal yang jauh dan sejuta alasan lain bisa keluar dari mulut guru yang memiliki komitmen rendah.

Mencari Solusi yang Tepat

Hanya menyalahkan guru mungkin tidak akan menyelesaikan persoalan. Pemerintah harus mencari faktor-faktor pasti penyebab malasnya guru mengajar dan mencarikan solusi yang tepat agar di kemudian hari tidak ada lagi guru yang malas mengajar.

Penulis dalam artikel ini mencoba memberikan solusi alternatif untuk mengatasi persoalan malasnya guru mengajar.

Solusinya antara lain adalah meningkatkan kompetensi guru baik penguasaan materi pelajaran dan metode pengajaran. Semua guru harus terus meng-upgrade pengetahuannya agar tidak ketinggalan zaman (out of date).

Metode dan teknik pengajaran terbaru harus dikuasai oleh guru. Ini untuk mengantisipasi berubahnya pola belajar siswa sekarang yang pastinya sangat jauh berbeda dengan ketika guru masih menjadi siswa.

Penguasaan kompetensi materi pelajaran dan metode pengajaran juga harus diikuti dengan penguasaan teknologi informasi. Guru harus dapat memanfaatkan kemajuan teknologi informasi ini dalam proses belajar mengajar di kelas. Kemudahan yang ditawarkan oleh kecanggihan teknologi informasi niscaya akan membuat guru betah mengajar dan siswa rajin belajar.

Solusi lain adalah perlunya penyegaran. Guru yang mengajar hanya di satu sekolah sepanjang karir mengajarnya memiliki kecenderungan untuk menjadi guru yang malas mengajar. Rutinitas yang sama selama bertahun-tahun membuat guru tersebut kehilangan kreatifitas dan inovasi dalam mengajar. Pengaruhnya akan terasa dalam proses belajar mengajar di kelas yang menjadi semakin hambar dari hari ke hari.

Dengan demikian diperlukan penyegaran dengan program mutasi guru. Apabila seorang guru sudah mengajar selama bertahun-tahun, sudah waktunya bagi guru tersebut datang ke sekolah baru untuk menyambut tantangan baru dengan semangat baru. Di sekolah baru guru tersebut akan memiliki pengalaman baru dan teman sejawat baru.

Tindak Tegas Guru Pemalas

Pemerintah harus mengambil langkah yang tepat dan bijaksana atas temuan banyaknya guru yang malas mengajar tersebut. Jika tidak maka tidak menutup kemungkinan angka guru yang malasa mengajar bukannya berkurang melainkan semakin meningkat. Hal tersebut tentu saja tidak boleh terjadi.

Tindakan tegas terhadap guru pemalas sangat diperlukan. Apabila si guru pemalas lebih mementingkan bisnis atau usaha pribadinya alangkah baiknya pemerintah bersikap tegas. Si guru disuruh memilih mana tetap menjadi guru PNS atau memilih menjadi pengusaha. Ini perlu dilakukan, terlebih sekarang guru sudah mendapat tunjangan profesi pendidik sebesar satu kali gaji pokok.

Terhadap guru yang rendah komitmennya tindakan tegas juga sangat diperlukan. Mereka harus meningkatkan komitmen terhadap profesi guru yang dipilih, jika tidak mereka dipersilahkan untuk memilih profesi lain yang lebih menarik minat mereka.

Pemerintah berkewajiban meningkatkan kompetensi dan kemampuan guru dalam menjalankan profesinya. Perlu pemerataan kesempatan memperoleh penataran atau pendidikan pelatihan (diklat). Tidak seperti yang terjadi sekarang yaitu adanya kesenjangan kesempatan mengikuti penataran dan diklat bagi guru. Ada guru yang menjadi spesialis penataran dan diklat karena setiap ada kegiatan penataran atau diklat si guru tersebut yang selalu dikirim. Sementara ada guru lain yang jarang bahkan tidak pernah mendapatkan kesempatan untuk mengikuti penataran dan diklat.

Beri Penghargaan Guru Berprestasi

Dulu pernah santer,  terdengar kabar bahwa guru-guru berprestasi akan diberi penghargaan jabatan secara istimewa. Dan pada masa itulah geliat guru-guru muda yang mempunyai kemampuan dan kemampuan serta semangat idealisme memeras keringatnya. Semua pihak dan kalangan menyambutnya gembira. Karena penghargaan itu sangat layak dan strategis membangun kompetensi guru yang bermutu. Penghargaan semacam itu adalah penghargaan yang sangat mumpuni, karena prestasi bukanlah sulap. Prestasi bisa diraih karena sebuah perjuangan keras, pemikiran matang  dan perjalanan yang panjang . Al hasil banyak prestasi-prestasi terdengar dan dirangkai oleh guru-guru di kabupaten ini mulai dari tingkat provinsi , regional sampai nasional.

Entah ada pemikiran apa, setelah itu. Seiring dengan waktu berjalan, angin beliung telah membuat terbang segalanya. Ternyata hanya sebuah kerinduan tak bertepi mengharap penghargaan  yang pernah menjadi pecut penyemangat itu. Disadari atau tidak, banyak guru-guru yang berprestasi menjadi guru-guru berprustasi. Ini pun salah satu kaca mata yang masih layak kita pakai dalam mengkaji berjuta persoalan tentang guru. Kalau sudah begini, mari kita refleksikan semua yang dengan kearifan sikap dan kejernihan berpikir, agar kubangan lumpur tidak lantas membuat carut marut bahkan rombengnya seragam anak kita.

About these ads

4 responses to this post.

  1. [...] Ketika Guru Malas Mengajar [...]

    Balas

    • Posted by diat ahadiat on Desember 11, 2010 at 1:05 am

      tks …. dengan hati kita didik anak-anak kita, aku sayang negeri ini… walau sebagai seorang guru aku banyak prihatin atas negeri ini

      Balas

  2. artikelnya bagus..

    Semoga banyak guru yang mengajar dengan sungguh-sungguh dan ikhlas sehingga tidak malas…terima kasih =)

    Balas

    • Posted by diat ahadiat on Desember 11, 2010 at 1:07 am

      tks …. dengan hati kita didik anak-anak kita, aku sayang negeri ini… walau sebagai seorang guru aku banyak prihatin atas negeri ini

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: